KASUS PORNOGRAFI ANAK BERBASIS CYBER HARUS MENJADI PERHATIAN BERSAMA

  • Dipublikasikan Pada : Senin, 29 Mei 2017
  • Dibaca : 2154 Kali
...


 

KEMENTERIAN

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA

 

PRESS RELEASE

 

KASUS PORNOGRAFI ANAK BERBASIS CYBER HARUS MENJADI PERHATIAN BERSAMA

 

Siaran Pers Nomor: B- 046/Set/Rokum/MP 01/05/2017

 

Jakarta (24/5) - Pornografi anak melalui media digital kembali terkuak. Hari ini, Polda Metro Jaya dalam konferensi persnya bersama Asdep Perlindungan Anak dari kekerasan dan eksploitasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), bersama Kak Seto dan Ketua KPAI menjelaskan kronologi pengungkapan kasus pornografi anak melalui Skype yang terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat mengungkapkan jika kasus tersebut telah diselidiki sejak April 2017. Pelaku melalui akun skype-nya tersebut membuat konten (foto dan video) tentang pornografi anak dan mentransmisikan gambar dan video yang bermuatan kesusilaan atau pornografi anak di bawah umur. Menjadi sorotan, sebab pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap anak kandung dan keponakannya sendiri, dan disiarkan secara live streaming serta disebarkan ke grup Whatsapp dan Telegram lintas internasional.

“Komunitas ini terkuak setelah polisi mengidentifikasi seorang WNI melakukan kekerasan seksual terhadap anak kecil melalui platform Skype. Kemudian kami bekerja sama dengan US Ice Homeland Security (bidang khusus dalam child pornografi di AS), di mana data internasional yang didapat itu diinformasikan ke kami, sehingga tanggal 6 Mei kami berhasil menangkap pelakunya," ujar Wahyu.

KemenPPPA yang diwakili oleh Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Rini Handayani menerangkan jika kejadian ini merupakan kasus eksploitasi seksual terhadap anak, karena dilakukan pelaku bukan berdasarkan motif ekonomi. Tentu akan berdampak luarbiasa terhadap psikis para korban, karena rentan waktu terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual dilakukan oleh pelaku sejak anaknya berusia 2 tahun.

 “Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak mengutuk dengan keras kejadian pornografi anak ini. Ini merupakan kasus cyber pornografi anak terbesar kedua di Indonesia yang berhasil diungkap. Apalagi kasus ini dilakukan oleh orang terdekat yakni ayah kandung, dimana orangtua seharusnya melindungi anak malah melakukan kejahatan seksual. Penegakan hukum harus benar-benar dilakukan, pelaku harus dihukum seberat-beratnya, dengan ancaman UU RI no.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman mati,” ujar Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Rini Handayani.

Kejahatan seksual dan eksploitasi terhadap anak melalui cyber sudah sangat menghawatirkan. Diperlukan upaya bersama untuk mencegah agar tidak terjadi kembali, tidak hanya pemerintah tapi keluarga, pendidik, masyarakat dan anak juga berperan. Kemen PPPA menghimbau agar rekan sebaya anak, keluarga, dan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan di sekitar anak. Gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) harus digalakkan dan massif, terutama di daerah terpencil atau terjauh.

“Kemen PPPA mengapresiasi kerja pihak kepolisian yang berhasil mengungkap kasus ini, dan mengharapakan hal ini menjadi perhatian bersama. Kemen PPPA akan mengawal proses penanganan bagi anak-anak yang menjadi korban dan memastikan anak tersebut mendapatkan layanan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial dan pendampingan untuk menghilangkan trauma. Melalui P2TP2A pendampingan tidak hanya dilakukan kepada anak-anak yang menjadi korban tapi juga bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Melalui forum-forum anak pula akan kita perkuat agar anak bisa membentengi diri untuk mencegah terjadinya kasus-kasus serupa,” jelas Rini.

 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN

                                                                                                 DAN PERLINDUNGAN ANAK

                                                                                                         Telp.& Fax (021) 3448510,

                                                                                        e-mail : publikasikpppa@gmail.com

www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Rabu, 05 Agustus 2020

Kemen PPPA Dorong Pemerintah Daerah Tempatkan Isu Perkawinan Anak Sebagai Isu Prioritas (8)

Pada 2019 terdapat kenaikan jumlah provinsi dengan angka perkawinan anak di atas rata-rata nasional, dari yang semula 20 provinsi di…
Siaran Pers, Rabu, 05 Agustus 2020

Pro dan Kontra RUU PKS, Menteri Bintang: Mari Bersatu Ciptakan Payung Hukum yang Komprehensif  (30)

Jakarta (3/08) – Pembahasan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) mulai dari konsep, naskah akademik, sampai dapat menjadi rancangan…
Pengumuman, Senin, 03 Agustus 2020

PENDAFTARAN ULANG PESERTA SELEKSI KOMPETENSI BIDANG PADA SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN ANGGARAN 2019 (373)

PENDAFTARAN ULANG PESERTA SELEKSI KOMPETENSI BIDANG PADA SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN ANGGARAN…
Siaran Pers, Minggu, 02 Agustus 2020

Kemen PPPA Beri Pemenuhan Kebutuhan Spesifik Perempuan dan Anak Korban Bencana Longsor dan Banjir Bandang di Masamba (101)

Masamba (02/8) –Bencana banjir bandang disertai tanah longsor terjadi di wilayah Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada 13 Juli 2020. Banjir…
Siaran Pers, Kamis, 30 Juli 2020

Hari Dunia Anti Perdagangan Orang, Menteri Bintang: Lawan dan Akhiri Segala Bentuk Perdagangan Orang (95)

Jakarta (30/07) – Dalam rangka peringatan Hari Dunia Anti Perdagangan Orang, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengajak…