Sekolah Ramah Anak Jadi Rumah Kedua bagi Anak di Kalimantan Timur

  • Dipublikasikan Pada : Senin, 02 September 2019
  • Dibaca : 1071 Kali
...

Siaran Pers Nomor: B-184/Set/Rokum/MP 01/09/2019

 

Samarinda (2/9) – Setiap harinya dalam waktu 24 jam rata-rata anak berada di sekolah selama 8 jam. Berdasarkan data Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, rata-rata lama sekolah anak di Kalimantan Timur selama 9,6 tahun, angka tersebut diatas rata-rata nasional. Oleh karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman sebagai bentuk rumah kedua bagi anak.

"Sekolah Ramah Anak (SRA) merupakan salah satu indikator dari Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) dengan memastikan anak-anak terpenuhi haknya di sekolah dan terlindungi dari kekerasan dan eksploitasi. Jika semakin banyaknya sekolah yang menginisiasi sebagai SRA, maka akan mendorong terciptanya KLA khususnya di Provinsi Kalimantan Timur," ujar Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA, Lenny N Rosalin saat membuka acara Pelatihan Konvensi Hak anak dan Sekolah Ramah Anak bagi 100 orang Pendidik dan Tenaga Pendidikan Tingkat Provinsi Kalimantan Timur yang diselenggarakan di Samarinda, 2-4 September 2019.

Saat ini jumlah SRA di Indonesia sebanyak 22.170 satuan pendidikan untuk Provinsi Kalimantan Timur sendiri sejumlah 242 satuan pendidikan. Pelatihan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan percepatan SRA di Provinsi Kalimantan Timur.

Sementara itu, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya, Elvi Hendrani menyampaikan proses pendisiplinan di SRA dilakukan tanpa merendahkan martabat peserta didik dan tanpa kekerasan.  "Proses komunikasi yg baik dan pembinaan menjadi cara yang tepat mengingat sekolah bukanlah lembaga penegak hukum namun lembaga pendidikan, sehingga seluruh warga sekolah menjadi dekat dan sekolah menjadi rumah kedua bagi anak. Jika anak mengalami kasus yang menempatkan anak dalam kategori perlindungan khusus, maka sekolah harus berkoordinasi dan menjalin komunikasi dengan lembaga layanan seperti P2TP2A, UPPA POLRI, KPAD, dan Pusaga untuk mempercepat penanganan kasus tersebut," tambah Elvi.

Pelaksanaan SRA dapat dicapai melalui 6 Komponen  SRA, yaitu; (1) Kebijakan SRA; (2) Guru dan Tenaga Kependidikan terlatih Konvensi Hak Anak; (3) Proses belajar yang ramah anak; (4) Sarana Prasarana Ramah Anak; (5)Partisipasi Anak, dan; (6) Partisipasi Orang Tua, Lembaga Masyarakat, Dunia Usaha, Stakeholder lainnya dan Alumni. 

“Dengan terciptanya sekolah yang ramah bagi anak akan membuat anak senang, guru tenang, dan orang tua yang bahagia. Mari bersama dan bersinergi untuk dapat mewujudkan hal tersebut,” tutup Elvi.

 

 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 

DAN PERLINDUNGAN ANAK 

Telp.& Fax (021) 3448510, 

e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Menteri PPPA: Perkawinan Anak Harus Dihentikan! (67)

Perkawinan bukanlah sekadar romantisme belaka
Siaran Pers, Kamis, 06 Agustus 2020

Menteri Bintang: Pengesahan RUU PKS Tidak Dapat Ditunda Lagi (50)

Jakarta (6/08) – Keputusan DPR RI untuk mengeluarkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dari daftar Program Legislasi Nasional…
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Perempuan Setara, Perempuan Merdeka (109)

Jakarta (07/8) – Menteri PPPA Bintang Puspayoga meyakini jika peran perempuan dalam rangka mengisi kemerdekaan dan pembangunan sangat dibutuhkan.
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Lindungi Korban dan Tindak Tegas Pelaku Kekerasan Seksual, Kemen PPPA Dorong Pembahasan RUU PKS yang Komprehensif (145)

“Saat ini, kasus kekerasan seksual terus meningkat dengan bentuk dan pola yang semakin beragam. Kekerasan seksual sudah masuk dalam tahap…
Siaran Pers, Kamis, 06 Agustus 2020

Dorong RUU PKS, Wujudkan Aturan Terkait Kekerasan Seksual Berperspektif korban (108)

Meski Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) telah dikeluarkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI) dari daftar pembahasan…