Dibutuhkan Penanganan Bencana secara Holistik dan Responsif Gender

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1821 Kali

Gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter yang terjadi pada hari Rabu(2/9) pukul 14.55 WIB, berpusat di 142 Km barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan kedalaman 30 Km, telah menelan korban meninggal sebanyak 81 orang, hilang 45 orang, luka 1.238 orang dan pengungsi 177.490 orang. Selain korban jiwa, kerusakan juga melanda rumah penduduk (rusak berat: 65.738 unit, rusak ringan: 122.977 unit); tempat ibadah (rusak berat: 2.417 unit, rusak sedang 569 unit, rusak ringan: 2.106 unit), pesantren (rusak berat 13 unit, rusak ringan: 55 unit) dan gedung perkantoran (rusak berat: 343 unit, rusak sedang: 41, rusak ringan: 291 unit). Data korban di atas didapatkan dari laporan tim pendamping Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk posko kedaruratan bencana gempa bumi Propinsi Jawa Barat sampai tanggal 13 September 2009 pukul 16.00 WIB.

Permasalahan tidak hanya jatuhnya korban jiwa dan harta benda, melainkan korban selamat yang harus bertahan di antara keterbatasan yang berdampak pada aspek sosiologis maupun psikologis. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh OXFAM (2006), setiap terjadi bencana alam, non alam dan bahkan konflik sosial, 60 s.d 70 persen korban adalah perempuan dan anak serta lanjut usia. Untuk itu, dibutuhkan penanganan bencana secara holistic dengan tidak mengenyampingkan responsive gender, dimulai dari tahap tanggap darurat sampai tahap rekonstruksi. Sehingga, jumlah korban dapat dieliminir dan hak-hak korban jiwa maupun korban selamat juga terlindungi.

Guna melihat lebih dekat penanganan Korban bencana gempa, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI berencana melakukan kunjungan ke Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut yang merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Bersamaan dengan itu, Meneg PP, sebagai wakil dari pemerintah akan memberikan Bantuan dari Departemen Sosial kepada Korban Bencana berupa 300 paket lauk pauk, 200 paket sandang (sarung, kaos, daster, seragam SD laki-laki dan perempuan), 500 lembar selimut dan 150 paket kids ware.

Sebelumnya, masih dalam rangkaian lawatan Menneg PP ke Garut, Jawa Barat, Beliau juga membuka sekaligus menjadi narasumber Symposium dan Pelatihan Kewirausahaan

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Selasa, 18 Februari 2020

Kasus Eksploitasi Seksual dan Perdagangan Anak Melalui Media Online Mengkhawatirkan, Menteri PPPA Angkat Suara (94)

Menanggapi maraknya kasus eksploitasi seksual dan perdagangan anak dengan modus iming-iming pekerjaan bergaji tinggi melalui aplikasi media sosial, Menteri Pemberdayaan…
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2018 (36)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2018
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017 (19)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017 (16)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak Kabupaten/Kota 2017
Siaran Pers, Minggu, 16 Februari 2020

Kemen PPPA Terjunkan Tim Dampingi Anak Korban Perundungan di Malang (150)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menerjunkan tim untuk menindaklanjuti kasus perundungan yang menimpa pelajar SMPN 16 Malang,…