Cegah Kesenjangan dengan Anak, Jadilah Orangtua Cerdas dan Asuh Anak Sesuai Zamannya

  • Dipublikasikan Pada : Sabtu, 30 November 2019
  • Dibaca : 594 Kali
...

Jakarta (29/11) - “Orangtua harus cerdas dan paham terkait batas usia anak dalam mengakses media sosial. Orangtua juga harus mengasuh anak sesuai dengan perkembangan jamannya agar tidak ada kesenjangan antara anak dengan orangtua. Kesenjangan inilah yang membuat anak lebih nyaman berkomunikasi dengan handphonenya dibanding orang sekitar, sehingga anak rentan terpapar hal-hal negatif,” ungkap Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Valentina Gintings dalam acara Penutupan Jambore Nasional KAMI BERLIAN 2019 di Jakarta.

Valentina menambahkan bahwa pola pengasuhan dalam keluarga harus berjalan baik agar tidak ada lagi anak keluar rumah untuk mencari pelarian ke hal negatif.

“Indonesia merupakan negara dengan tingkat pengguna internet ke-3 (tiga) tertinggi di dunia, khususnya dalam penggunaan platform Facebook (FB). Untuk itu, demi mewujudkan internet aman bagi anak, orangtua harus dapat melakukan deteksi dini dengan pola asuh yang baik dalam mendampingi anak berinternet,” tutur Valentina.

Menurut Valentina, anak tidak bisa dilarang dalam menggunakan internet, tapi mereka harus paham ada sisi tidak aman yang ditimbulkan. Salah satu upaya untuk menangani hal tersebut adalah dengan memperkuat kapasitas para aktivis perlindungan anak berbasis masyarakat (PATBM) di desa-desa sebagai garda terdepan dalam mewujudkan internet aman bagi anak.

“Pada 2017, teman-teman aktivis PATBM di desa juga sudah kami berikan pelatihan hasil bekerjasama dengan Google, tentang bagaimana membuat konten aman bagi anak. Tahun lalu, kami juga sudah melakukan kerjasama dengan FB untuk melakukan program ‘think before you share’ kepada anak pelajar mulai dari SD sampai SMA di 7 (tujuh) Provinsi untuk menjadi agen perubahan,” terang Valentina.

Selain itu, Valentina menuturkan bahwa Kemen PPPA bersama Instagram juga telah mengeluarkan buku parental control yang diterjemahkan dalam 3 (tiga) bahasa, yaitu Inggris, Korea, dan Indonesia di Instagram. Pada 2016, Kemen PPPA juga telah bekerjasama dengan Kakatu dalam melatih anak SD hingga SMA untuk cerdas berinternet.

“Sejauh ini, Kemen PPPA memang belum melakukan MoU dengan platform media sosial seperti FB, Instagram, Whatsapp, dan lainnya, namun kita telah melakukan pendekatan khusus dengan platform tersebut untuk mengedukasi bagaimana orangtua menghadapi anak yang kecanduan internet,” jelas Valentina.

Manager Program Keamanan Facebook Kawasan Asia Pasifik, Snow White Smelser menyampaikan bahwa FB terus berupaya melakukan pencegahan perundungan (bullying) di media sosial dan menjaga keamanan anak-anak remaja khususnya pada perempuan di Facebook.

“Saat ini ada 2,6 Milyar pengguna facebook di seluruh dunia, kami terus berupaya menjaga keamanan dan kenyamanan privacy para pengguna. Namun hal ini tidak bisa kami lakukan sendiri, butuh kolaborasi bersama orangtua dan masyarakat untuk mewujudkan keamanan dan kenyamanan bagi anak dalam berinternet,” ungkap Snowy.

Snowy menjelaskan bahwa FB memiliki fitur khusus yang mengatur kebijakan keamanan remaja yang memantau terkait eksploitasi anak. Tidak peduli siapapun yang mengunggah hal-hal yang mengarah ke eksploitasi anak, FB tidak hanya akan menghapus konten tersebut tapi juga menghilangkan akun pemiliknya.

“Cara kami menjaga remaja tetap aman dalam berinternet khususnya saat mengakses FB yaitu dengan aturan mendasar yang tidak memperbolehkan anak usia di bawah 13 tahun bergabung dengan FB. Bersama Kemen PPPA, kami juga sudah mengembangkan panduan yang mengajarkan cara orangtua berkomunikasi baik dengan anak yang kecanduan media online, yaitu dengan mengakses program Parentalk yang ada di website kemenpppa.go.id,” jelas Snowy.

Snowy meminta agar seluruh masyarakat dapat melaporkan segala bentuk bullying atau hal negatif lainnya yang ditemukan di FB. Ini merupakan cara bersama untuk melindungi anak dari bahaya internet.

Public Figur yang aktif membahas isu Parenting Digital, Caca Tengker juga menjelaskan upaya yang harus dilakukan dalam mencegah, menangani, dan meningkatkan keamanan aman dari bahaya media sosial.

“Digital Platform memiliki sisi positif dan negatif. Kita harus bisa mengambil sisi positifnya, yaitu bisa mengenal orang lain yang kita butuhkan, mendapatkan berita dan informasi penting dengan mudah, dan memperluas jaringan. Namun di balik itu tentu ada sisi negatifnya, hal inilah yang harus orangtua pilah mana informasi benar atau salah. Ambil sisi positifnya, kontrol hal negatifnya dengan diri sendiri,” tutur Caca.

Caca juga meminta agar orangtua banyak belajar untuk memastikan anak aman dalam berinternet dengan berikan pengawasan pada anak dalam mengakses media sosial. “Cari tahu media sosial anak, cari informasi, dan pastikan anak merasa aman dan nyaman dengan dunianya. Sebagai orangtua, kita harus beri contoh bahwa proses belajar itu menyenangkan dan bisa dilakukan kapan saja,” pungkas Caca.

 

PUBLIKASI DAN MEDIA
  KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
                                                                                                         Telp.& Fax (021) 3448510,
                                                                                        e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id
www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Menteri PPPA: Perkawinan Anak Harus Dihentikan! (6)

Perkawinan bukanlah sekadar romantisme belaka
Siaran Pers, Kamis, 06 Agustus 2020

Menteri Bintang: Pengesahan RUU PKS Tidak Dapat Ditunda Lagi (16)

Jakarta (6/08) – Keputusan DPR RI untuk mengeluarkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dari daftar Program Legislasi Nasional…
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Perempuan Setara, Perempuan Merdeka (59)

Jakarta (07/8) – Menteri PPPA Bintang Puspayoga meyakini jika peran perempuan dalam rangka mengisi kemerdekaan dan pembangunan sangat dibutuhkan.
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Lindungi Korban dan Tindak Tegas Pelaku Kekerasan Seksual, Kemen PPPA Dorong Pembahasan RUU PKS yang Komprehensif (83)

“Saat ini, kasus kekerasan seksual terus meningkat dengan bentuk dan pola yang semakin beragam. Kekerasan seksual sudah masuk dalam tahap…
Siaran Pers, Kamis, 06 Agustus 2020

Dorong RUU PKS, Wujudkan Aturan Terkait Kekerasan Seksual Berperspektif korban (82)

Meski Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) telah dikeluarkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI) dari daftar pembahasan…