Penurunan Angka Perkawinan Anak, Bukan Hanya Mimpi

  • Dipublikasikan Pada : Sabtu, 15 Februari 2020
  • Dibaca : 415 Kali
...
Siaran Pers Nomor: B-024/Set/Rokum/MP 01/02/2020

Jakarta (15/02) – Pada masyarakat dengan sosial ekonomi dan tingkat pendidikan rendah, seringkali orang tua mengawinkan anaknya pada usia muda. Padahal, selain anak belum siap secara fisik dan mental, pernikahan usia anak berdampak pada berbagai aspek kehidupan anak seperti kesehatan dan pendidikan. Di Indonesia, tahun 2018 sebanyak 1 dari 9 anak atau 11,21 % perempuan usia 20-24 tahun berstatus Kawin Sebelum Umur 18 Tahun (BPS, 2019).

Dalam RPJMN 2020 Presiden RI Joko Widodo menargetkan penurunan angka perkawinan anak dari 11,2 % menjadi 8,74 %, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga optimis hal ini bukan hanya mimpi.

”Tahun 2024 angka perkawinan anak mampu turun dari 11,21 % menjadi 8,74 %, bagi saya itu bukan mimpi. Saya yakin, saya optimis itu dapat diwujudkan dengan jalan bergandengan tangan semua stakeholder yang ada. Seperti upaya nyata yang diimplementasikan oleh Muslimat NU dan UNICEF melalui Bahtsul Masail. Kami sangat mengapresiasi,” ujar Menteri PPPA, Bintang Puspayoga.

Prihatin dengan persoalan perkawinan anak Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Bahtsul Masail (pembahasan masalah) bekerjasama dengan UNICEF membahas tentang Pencegahan Perkawinan Anak di Jakarta (15/02). 

”Kami ingin mengambil peran penting pencegahan pernikahan anak melalui Bahtsul Masail dan pembuatan buku pedoman pencegahan pernikahan pada anak. Nantinya, buku tersebut disosialisasikan tidak hanya terbatas pada Muslimat NU di seluruh Indonesia namun juga untuk masyarakat luas,” terang Dewan Pakar Bahtsul Masail PP Muslimat NU, Mursyida Thahir.

Disebutkan UNICEF, Bahtsul Masail inisiasi Muslimat NU merupakan tindakan paling cepat dari sebuah organisasi dalam merespon dan menindaklanjuti Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Stranas PPA) dan re-launching Stop Perkawinan Anak.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Muslimat NU, Yenny Wahid, yang turut hadir menerangkan pentingnya melibatkan organisasi berbasis agama dalam upaya pencegahan pernikahan anak. 

”Salah satu strategi paling ampuh yang menjadi tren dunia saat ini adalah pelibatan organisasi berbasis agama. Persoalan perkawinan usia anak ini merupakan persoalan cukup besar, sehingga pelibatan umat Islam di Indonesia menjadi penting dalam pencegahan perkawinan anak dan memperbaiki indeks pembangunan manusia ke depan,” terang Yenny Wahid. 

 

PUBLIKASI DAN MEDIAKEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN

                                                                                                DAN PERLINDUNGAN ANAK

                                                                                                        Telp.& Fax (021) 3448510,

                                                                   e-mail : publikasi@Kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Brosur/Leafet/Boklet, Jumat, 27 Maret 2020

Pedoman Umum Perlindungan Anak Penanganan Vovid-19 (113)

Pedoman Umum Perlindungan Anak Penanganan Vovid-19
Iklan Layanan Masyarakat, Kamis, 26 Maret 2020

APA ITU COVID-19..? YUK SIMAK (150)

APA ITU COVID-19..? YUK SIMAK
Siaran Pers, Senin, 23 Maret 2020

Kasus Balita Meninggal di Kabupaten Agam, Orangtua yang Bercerai Harus Tetap Penuhi Hak Anak (165)

Perceraian dapat menimbulkan banyak polemik, utamanya terkait pengasuhan dan jaminan terhadap hak anak. Di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat seorang…
Pengumuman, Senin, 23 Maret 2020

PENGUMUMAN No : P.21 Tahun 2020 TENTANG HASIL SELEKSI KOMPETENSI DASAR DAN PENUNDAAN JADWAL SELEKSI KOMPETENSI BIDANG CPNS KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN 2019 (1366)

PENGUMUMAN No : P.21 Tahun 2020 TENTANG HASIL SELEKSI KOMPETENSI DASAR DAN PENUNDAAN JADWAL SELEKSI KOMPETENSI BIDANG CPNS KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN…
Artikel, Minggu, 22 Maret 2020

Tool Tips Menghadapi Covid-19 Untuk Orang Tua dan Anak (6332)

Tool Tips Menghadapi Covid-19 Untuk Orang Tua dan Anak