Stigma Negatif Perempuan Pekerja Seni, Beban Ganda dan Tantangan

  • Dipublikasikan Pada : Kamis, 12 November 2020
  • Dibaca : 899 Kali
...

Siaran Pers Nomor: B-302/Set/Rokum/MP 01/11/2020


Jakarta (12/11) Perempuan bekerja pada sektor publik saat ini tidak disanksikan lagi. Terlebih pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi menunjukan kesempatan itu terbuka lebar, hampir tidak ada lagi dikotomi profesi perempuan dan laki-laki. Sayangnya, keterbukaan kesempatan itu tidak berbanding lurus dengan keterjaminan hak-hak perempuan bekerja. Kekerasan, perbedaan upah, diskriminasi, stigma perempuan tidak mampu memimpin, dan lainnya menghambat perempuan dalam berkarir. Hal yang sama juga dirasakan bagi perempuan pekerja di bidang industri hiburan. 

“Perempuan pekerja di bidang industri hiburan, khususnya penyanyi dangdut kerap memiliki beban ganda akibat stigma negatif masyarakat yang kerap menganggap penyanyi perempuan tidak hanya menghibur dengan suaranya yang bagus, namun juga pantas untuk dilecehkan secara verbal maupun fisik,” ujar Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Agung Putri Astrid dalam diskusi “Perempuan Bekerja: Kekerasan Seksual terhadap Penyanyi di Industri Hiburan Tantangan dan Jalan Keluarnya” Dalam Rangka Peringatan Hari Ibu (PHI) yang ke-92 yang dilakukan secara daring (10/11).

Di awal diskusi peserta diajak menyaksikan film “5 Menit Lagi” karya Sally Anom Sari. Film tersebut bercerita tentang realita kehidupan penyanyi dangdut di lingkungan masyarakat bawah. Meski karirnya semakin baik saat ia berhasil menjuarai ajang pencarian bakat penyanyi dangdut pada televisi swasta, namun kehidupan seorang perempuan belia pemilik bakat tersebut tetap harus berjuang dalam menjalankan profesinya. Setiap kali pentas, tak jarang berjuang melindungi diri dari pelecehan seksual yang rentan diterima. Sebagai tulang punggung keluarga, terkadang membuat seperti tidak ada pilihan lain baginya, dan stigma negatif penyanyi dangdut perempuan membuat pelecehan seksual dianggap hal wajar.  

“Kondisi tersebut kerap terjadi pada perempuan penyanyi dangdut. Pelecehan seksual biasanya dimulai pada saat pemberian sawer. Ada sesuatu dari pemberian saweran tersebut, penyawer menganggap berhak melakukan apa saja termasuk pelecehan kepada penyanyinya,” ungkap peneliti sekaligus penyanyi profesional, Ullynara Zungga berdasarkan hasil tesisnya tentang Kekerasan Seksual yang Dialami Perempuan Penyanyi Dangdut. 

Lebih lanjut Nara menjelaskan, stigma negatif bagi penyanyi perempuan dalam industri musik dangdut menjadikan mereka rentan pelecehan seksual hingga kekerasan seksual. Pelecehan seksual yang sering dialami antara lain pelecehan seksual verbal dan pelecehan seksual fisik. “Melawan, pasti. Mereka melakukan perlawanan dengan caranya. Pergulatan batin pun muncul, marah, kesal dan tidak nyaman. Namun ia tetap bertahan karena alasan finansial,” tambah Nara. 

Direktur LBH APIK Jakarta, Siti Zuma menambahkan bahwa kondisi tersebut diperparah dengan belum adanya payung hukum spesifik sehingga kasus pelecehan seksual menguap begitu saja. “Kami butuh payung hukum spesifik dalam kasus pelecehan seksual, karena selama ini hukum belum maksimal memihak kepada korban pelecehan seksual. Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual,” ujar Zuma.

Senada dengan hal itu, Gung Tri memandang perlunya menciptakan lingkungan kerja nyaman dan aman bagi perempuan pekerja seni dalam mendongkrak industri hiburan di Indonesia. “Industri hiburan sangat potensial dalam menyerap tenaga kerja dan menjadi aset bangsa. Di luar negeri dangdut sangat berpotensi besar, diminati dan dihargai. Namun sayangnya di dalam negeri kerap dilecehkan dengan stigma negatif. Untuk itu, Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember kita jadikan momentum mengembalikan perjuangan perempuan pada kitohnya, yaitu satu suara dan langkah dalam menyelesaikan persoalan perempuan, membuat rencana aksi nyata dan terukur agar perjuangan mewujudkan perlindungan bagi perempuan membuahkan hasil,” tutup Gung Tri.

 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 

DAN PERLINDUNGAN ANAK                                                                                                                                            

Telp.& Fax (021) 3448510,                                                                                                        

 e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id                                                                                                                                                                                                    

www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 23 Juli 2021

Hari Anak Nasional 2021, Penuhi Hak Anak di Tengah Pandemi ( 282 )

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2021 merupakan momentum bersatunya seluruh komponen Bangsa Indonesia untuk penuhi hak dan lindungi anak, agar…

Siaran Pers, Kamis, 22 Juli 2021

HAN 2021, Menteri Bintang Serahkan Bantuan 1,2 Ton Ikan Sehat Untuk Anak-Anak ( 171 )

Jakarta (22/07) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerja sama dengan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil…

Siaran Pers, Kamis, 22 Juli 2021

Menteri Bintang : Orangtua Garda Terdepan Pengasuhan Untuk Meminimalisasi Kecemasan Pada Anak ( 154 )

Jakarta (22/07) –  Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun dan belum menunjukkan tanda berakhir telah menempatkan anak-anak dalam situasi…

Siaran Pers, Kamis, 22 Juli 2021

Kemen PPPA Raih Penghargaan dalam Anugerah KPAI 2021, Menteri Bintang Ajak Tingkatkan Sinergi ( 79 )

Jakarta (22/7) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk kedua kalinya menerima penghargaan dari Komisi Perlindungan Anak…

Siaran Pers, Kamis, 22 Juli 2021

Momentum HAN 2021, Menteri Bintang Ajak Masyarakat Penuhi Hak Anak Dalam Masa Pandemi ( 360 )

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini dilaksanakan masih dalam suasana pandemi Covid-19.