Kemitraan Indonesia dengan Beberapa Negara dalam Equal Futures Partnership (EFP)

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1403 Kali

New York – Amerika Serikat meluncurkan Equal Futures Partnership (EFP) yang memajukan dan memperluas kesempatan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di bidang politik dan pembanguan ekonomi yang akan menjalin kemitraan dengan beberapa founding members (Indonesia, Tunisia, Belanda, Bangladesh, Benin, Finlandia, Australia, Jordan, Denmark, Senegal, Peru, dan Uni Eropa). EFP juga diarahkan untuk menjadi suatu jaringan kerjasama yang bersifat inklusif yang keanggotaannya terbuka bagi semua negara yang telah memiliki kerangka hukum bagi pelindungan perempuan (misalnya hak untuk menjadi pemilih maupun kandidat dalam pemilu) dan memiliki komitmen untuk meningkatkan aksi dan kebijakan memajukan perempuan melalui kerjasama dengan semua pemegang kepentingan nasional, selaras dengan prinsip dalam CEDAW dan Beijing Platform of Action (BPfA) serta berbagai resolusi PBB yang terkait lainnya. (24/9)

Setiap negara yang menjadi founding members, diminta untuk menyampaikan komitmen nasional bagi pemajuan partisipasi perempuan, terutama dalam bentuk seperangkat rencana aksi baru yang akan melengkapi dan memperkuat berbagai langkah kebijakan di bidang perempuan yang telah dilakukan selama ini. Negara-negara anggota EFP juga diharapkan dapat mengidentifikasi tantangan dalam upaya dalam pencapaian hak perempuan atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik dan menjadi agen pendorong pertumbuhan ekonomi negaranya.

Menteri PP-PA, Linda Amalia Sari Gumelar hadir mewakili Presiden Republik Indonesia, mengatakan bahwa keterlibatan Indonesia dalam gerakan EFP adalah untuk mempercepat perwujudan kesetaraan gender di bidang ekonomi dan politik sesuai dengan prioritas RPJMN 2010-2014 dan UUD 1945. Adapun quick wins untuk percepatan antara lain adalah policy reform, dengan mengamandemen UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri, melaksanakan affirmative actions 30 persen perempuan di politik, memperkuat kapasitas akses dan fasilitasi terhadap perempuan di politik dan usaha mikro dan kecil. Untuk itu Indonesia sudah menyusun draft rencana aksi yang terdiri dari policy reform, capacity development, monitoring evaluasi yang perlu dibahas kembali dengan KL dan CSO sebagai bagian komitmen konkrit dari pelaksanaan EFP di Indonesia yang akan dievaluasi dalam forum EFP bulan April 2013 yang akan datang. (ciput/hm)

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Kamis, 06 Agustus 2020

Dorong RUU PKS, Wujudkan Aturan Terkait Kekerasan Seksual Berperspektif korban (40)

Meski Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) telah dikeluarkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI) dari daftar pembahasan…
Siaran Pers, Rabu, 05 Agustus 2020

Kemen PPPA Dorong Pemerintah Daerah Tempatkan Isu Perkawinan Anak Sebagai Isu Prioritas (37)

Pada 2019 terdapat kenaikan jumlah provinsi dengan angka perkawinan anak di atas rata-rata nasional, dari yang semula 20 provinsi di…
Siaran Pers, Rabu, 05 Agustus 2020

Pro dan Kontra RUU PKS, Menteri Bintang: Mari Bersatu Ciptakan Payung Hukum yang Komprehensif  (59)

Jakarta (3/08) – Pembahasan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) mulai dari konsep, naskah akademik, sampai dapat menjadi rancangan…
Pengumuman, Senin, 03 Agustus 2020

PENDAFTARAN ULANG PESERTA SELEKSI KOMPETENSI BIDANG PADA SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN ANGGARAN 2019 (414)

PENDAFTARAN ULANG PESERTA SELEKSI KOMPETENSI BIDANG PADA SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN ANGGARAN…
Siaran Pers, Minggu, 02 Agustus 2020

Kemen PPPA Beri Pemenuhan Kebutuhan Spesifik Perempuan dan Anak Korban Bencana Longsor dan Banjir Bandang di Masamba (109)

Masamba (02/8) –Bencana banjir bandang disertai tanah longsor terjadi di wilayah Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada 13 Juli 2020. Banjir…