Menteri PP dan PA : Prioritaskan Pendampingan dan Proses Pemulihan Traumatis Perempuan dan Anak Pengungsi Eks Gafatar

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1789 Kali

Jakarta (25/1) – Upaya pemulangan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat terus dilakukan. Setelah pemulangan sebagian besar pengungsi dilakukan melalui jalur udara dan laut sejak Jumat malam (22/1) hingga Sabtu (23/1), Minggu (24/1) kemarin, kembali datang pengungsi lanjutan dari Kabupaten Singkawang sebanyak 224 jiwa, Kabupaten Melawi sebanyak 595 jiwa, dan Kabupaten Kayong sebanyak 265 jiwa. Total pengungsi hingga Minggu (24/1) sekitar 1850 jiwa. Jumlah ini merupakan sisa pengungsi dari pemulangan sebelumnya dan kedatangan para pengungsi baru ini dari sejumlah tempat penampungan di beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang akan dikembalikan ke daerah asal secara bertahap.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise memastikan pihaknya akan terus mendampingi dan memberikan perlindungan, khususnya kepada para pengungsi perempuan dan anak. “Kami akan memberikan upaya perlindungan, pendampingan, dan pengawalan, khususnya para pengungsi perempuan dan anak untuk memastikan mereka dapat kembali ke daerah asal masing-masing dan berkumpul kembali dengan keluarganya dengan selamat dan mendapatkan upaya pendampingan, baik secara fisik dan psikologis untuk meminimalisasi dampak traumatis yang dialami para korban,” ujar Menteri Yohana.

Sebelumnya Menteri Yohana telah menugaskan timnya sebagai bentuk Penanganan Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan Dan Anak (TPRC-PPA) beserta Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB (BP3AKB) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) untuk turun langsung melihat dan memastikan kondisi pengungsi yang berada di sejumlah tempat penampungan, khususnya kaum perempuan dan anak. Tim TPRC-PPA tersebut bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB (BP3AKB) Provinsi Kalimantan Barat dan tim Tagana (Tim Tanggap Bencana) Kemensos telah melakukan upaya pendampingan bagi anak dan ibu yang mengalami trauma serius serta menyiapkan shelter untuk penanganan khusus bagi anak dan keluarga yang memerlukan terapi psikologis lebih lanjut.

“Tim dari Kementerian PP-PA dan BP3AKB Kalbar akan terus memonitor perkembangan kondisi fisik dan psikologis, memfasilitasi kegiatan trauma healing, serta memenuhi hak perempuan dan anak-anak, baik yang saat ini masih berada di lokasi penampungan maupun mereka yang sudah kembali ke daerah asalnya masing-masing. Kami berharap pihak-pihak terkait juga dapat membantu menyediakan sarana dan prasarana yang saat ini dibutuhkan bagi para pengungsi, khususnya bagi perempuan dan anak,” tegas Menteri Yohana.

 

 

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 10 Agustus 2020

Optimalisasi Layanan JDIH, Kemen PPPA Sediakan Kemudahan Akses Produk Hukum terkait PPPA (27)

Jakarta (10/08) – Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) merupakan suatu sistem pemanfaatan bersama peraturan perundang-undangan dan bahan dokumentasi hukum…
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Menteri PPPA: Perkawinan Anak Harus Dihentikan! (72)

Perkawinan bukanlah sekadar romantisme belaka
Siaran Pers, Kamis, 06 Agustus 2020

Menteri Bintang: Pengesahan RUU PKS Tidak Dapat Ditunda Lagi (54)

Jakarta (6/08) – Keputusan DPR RI untuk mengeluarkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dari daftar Program Legislasi Nasional…
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Perempuan Setara, Perempuan Merdeka (117)

Jakarta (07/8) – Menteri PPPA Bintang Puspayoga meyakini jika peran perempuan dalam rangka mengisi kemerdekaan dan pembangunan sangat dibutuhkan.
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Lindungi Korban dan Tindak Tegas Pelaku Kekerasan Seksual, Kemen PPPA Dorong Pembahasan RUU PKS yang Komprehensif (156)

“Saat ini, kasus kekerasan seksual terus meningkat dengan bentuk dan pola yang semakin beragam. Kekerasan seksual sudah masuk dalam tahap…