Kunjungi Pengungsian Eks Gafatar, Kementerian PP&PA Segera Bentuk Posko Pemulihan Psikis Anak

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1171 Kali

Pontianak (23/01) – Maraknya isu radikalisme pada kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) membuat sejumlah kalangan eks anggota Gafatar di beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat harus diungsikan ke penampungan dan kemudian di kembalikan ke daerah asal masing-masing. Setidaknya terdapat 440 jiwa eks anggota yang berasal dari Kubu Raya dan Rasau Jaya diungsikan ke barak-barak prajurit Batalyon kompi B, serta 1.278 jiwa eks anggota dari Kabupaten Mempawah dan sekitarnya diungsikan ke Bapengdam Kodam XII Tanjung Pura Kabupaten Kubu Raya. Hingga Jumat (22/1) jumlah pengungsi terus bertambah, yakni secara keseluruhan berjumlah 2391 jiwa yang juga berasal dari beberapa kabupaten lainnya di Kalimantan Barat.


Dalam situasi ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA), memandang perlu untuk memfasilitasi perlindungan Perempuan dan Anak serta pemenuhan hak-hak anak akibat bencana sosial di lokasi pengungsian.

Sejak 21 Januari 2016 kemarin, Staf Khusus Menteri, Albaet Pikri yang ditugaskan oleh Menteri PP dan PA bersama Kepala Bagian Pengaduan Masyarakat Sudarmaji, sebagai perwakilan dari Tim Penanganan Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan Dan Anak (TPRC-PPA) beserta Kepala Badan Pemberdayaan Perampuan, Perlindungan Anak dan KB (BP3AKB) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) melakukan aksi langsung ke lokasi pengungsian.

Dari peninjauan tersebut ditemukan fakta bahwa sekitar 60% dari pengungsi adalah anak-anak. Hal ini menjadi miris, mengingat sejumlah anak-anak harus segera mendapatkan pelayanan kesehatan setibanya di pengungsian akibat trauma yang dideritanya. Data pengungsian pada tanggal 21 Januari 2016 mencatat terdapat 27 Balita, 8 bayi, dan 20 ibu hamil yang mendapatkan pelayanan kesehatan selama di pengungsian. Selain itu terdapat pula pengungsi yang dirujuk kerumah sakit sebanyak 4 orang karena diare, patah tulang, dan 1 orang ibu hamil yang sudah cukup bulan. Keesokan harinya disusul 1 orang anak penderita epilepsi. Dari pelayanan kesehatan yang diberikan tercatat Rata-rata penyakit yang diderita oleh pengungsi adalah batuk, pilek, diare dan ispa.

“Ironisnya lagi, ada seorang anak bernama Riko (Bintang) umur 5 tahun asal Jogja mengalami trauma serius yaitu pada malam hari merasa ketakutan dengan berteriak-teriak serta menangis, sehingga menyebabkan sebagian anak lain ikut merasa ketakutan. Kini, anak tersebut telah menerima terapi psikologis yang diberikan oleh tenaga psikolog dari BP3AKB Kalbar”, terang Albaet Pikri.

Sejauh ini sebagian besar SKPD terkait di Provinsi Kalimantan Barat telah melakukan koordinasi dan penangan pengungsi sudah cukup baik. Fasilitas penampungan sudah cukup baik berupa bangunan bertingkat dua, tenda-tenda dan koridor. Ditambah lagi fasilitas air untuk keperluan umum relatif cukup karena lokasi penampungan berada dipinggir sungai.

Akan tetapi, masih banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam penanganan pengungsi eks Gafatar, yang diantaranya adalah belum tersedianya makanan tambahan dan makanan khusus untuk anak Balita dan ibu hamil, toilet darurat atau MCK masih terbatas, kasur bagi ibu dan anak-anak belum tersedia serta barak penampungan pengungsi yang terbatas.

“Hal yang paling mendesak saat itu adalah kondisi anak-anak pengungsian yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk pengembalian kondisi psikis mereka yang mengalami trauma. Melihat situasi itu, tim dari Kementerian PP-PA dan BP3AKB Kalbar dibantu unit TRC (Tim Reaksi Cepat) BP3AKB dan Forum Anak Daerah segera membuka Posko Pelayanan Pemulihan Psikis Anak dengan melibatkan Psikolog yang ada di Provinsi Kalimantan Barat”, tegas Albaet.

Disamping itu, Tim TRPC-PPA keesokan harinya melakukan kegiatan pengembalian psikis anak dengan mengajak bermain permainan edukatif dan ceria dengan melibatkan Anak Forum Daerah (FAD) dan Psikolog agar anak-anak di pengungsian dapat kembali ceria dan melupakan kejadian bencana yang dialaminya.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, Tim TPRC-PPA juga melakukan pendampingan bagi anak dan ibu yang mengalami trauma serius serta menyiapkan Shelter bersama dengan tim Tagana (Taruna Diaga Bencana) Kemensos untuk penanganan khusus bagi anak dan keluarga yang memerlukan trapi psikologis lebih lanjut.

Kedepannya, Kementerian PP-PA mengharapkan di setiap daerah yang mengalami bencana, baik bencana sosial ataupun bencana alam mempunyai sarana dan prasarana yang siap pakai bila terjadi bencana.
Adapun perkembangan terkini terkait kondisi para pengungsi, yakni pada tanggal 22 Januari 2016 sore hingga malam, pemerintah telah memberangkatkan sekitar separuh dari pengungsi yang ada di penampungan menuju kampung masing-masing dengan menggunakan pesawat.

Untuk pengungsi yang tersisa, pagi ini Sabtu tanggal 23 Januari 2016 tim dari Kementerian PP-PA dan BP3AKB Kalbar menyiapkan paket tambahan makanan untuk anak-anak pengungsi. Begitu pula dengan kegiatan taruma healing dan monitoring kondisi terus dilanjutkan.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

PPT KTPA Bentuk Negara Hadir Lindungi Perempuan dan Anak (37)

Pusat Pelayanan Terpadu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (PPT KTPA) RSUD Beriman Balikpapan yang berdiri sejak Februari 2019 memberikan penanganan…
Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

Teman Sebaya Dukung Sekolah Ramah Anak (46)

Teman Sebaya berperan besar dalam mendorong terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA).
Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

Ayo ke PUSPAGA, Demi Keluarga Berkualitas! (37)

Menjadi orang tua di zaman sekarang memiliki tantangan yang lebih berat daripada menjadi orang tua di zaman dahulu.
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Komitmen Pimpinan Pusat Dan Daerah Pacu Pembangunan Pppa (66)

Kepulauan Seribu (19/09) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Rapat Evaluasi Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan…
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Kab.Sleman Berlari Menuju KLA (85)

"Kabupaten Sleman hingga sekarang terus berlari menuju Kabupaten Layak Anak (KLA)"