Pendeklarasian Kota Palangka Raya Menjadi Kota Menuju Layak Anak

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1479 Kali

Kunjungan Menteri PP-PA, Yohana Yembise berkunjung ke SDN Percobaan

 

 

Palangka Raya - 5 Desember 2014 menjadi tanggal bersejarah bagi seluruh anak di Palangka Raya. Pasalnya, kota Palangka Raya mendeklarasikan dirinya sebagai Kota Menuju Layak Anak. Launching kota Palangka Raya sebagai kota menuju layak anak yang dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise ini disambut hangat oleh seluruh elemen masyarakat di Kota Palangka Raya.

Pada kesempatan ini, Yohana Yembise berpesan kepada Gubernur Kalimantan Tengah, Walikota Palangka Raya dan seluruh masyarakat agar lebih memperhatikan "Budaya Ramah Anak". "Saya ingin menekankan bahwa untuk mewujudkan suatu Kabupaten/Kota LayakAnak, tidak hanya dilakukan dengan mengeluarkan berbagai kebijakan, program, kegiatan dan anggaran untuk pembangunan fasilitas untuk anak, tetapi juga harus mengembangkan budaya ramah anak, bukan saja kepada anak-anak kandung kita, tetapi juga kepada seluruh anak. Sehingga anak akan memiliki rasa percaya diri, aktif dan memiliki inisiatif", pesan Yohana Yembise pada kata sambutannya. Pada kegiatan tersebut, dilaksanakan pula penandatanganan Komitmen Kota Palangka Raya Sebagai Kota Menuju Layak Anak oleh Menteri PP-PA, Yohana Yembise, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang yang diwakili oleh Wakil Gubernur, Achmad Dirani dan Walikota Palangka Raya, M. Riban Satia.

Sebelumnya, pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) telah dirintis sejak tahun 2006, dimana hanya ada 5 kabupaten/kota sebagai pilot projectnya. Selanjutnya pada RPJMN 2010-2014, Pemerintah mentargetkan 100 Kabupaten/Kota menuju Layak Anak pada akhir tahun 2014. Sampai dengan saat ini, telah tercatat 230 kabupaten/kota yang merintisnya, dan Kota Palangka Raya menjadi kota ke-231 sebagai kota menuju layak anak. Hal ini tentunya akan turut mempercepat terwujudnya IDOLA, yaitu Indonesia Layak Anak, sebagai penjabaran dari World Fit for Children atau Dunia Layak Anak, yang dicanangkan PBB pada tahun 2000.

Selain itu Menteri Yohana Yembise kembali menjelaskan indikator yang mampu mewakili upaya pemenuhan hak dan perlindungan anak sehingga dapat dikatakan menuju Kota Layak Anak (KLA).

Pertama, salah satu ciri penting dari KLA adalah keterlibatan anak-anak dalam menentukan pembangunan di wilayahnya, atau dikenal dengan partisipasi anak. Partisipasi anak yang merupakan satu dari empat prinsip Konvensi Hak Anak, dapat diwujudkan melalui pembentukan forum-forum anak. Di tingkat. Saat ini telah terbentuk forum anak di 33 provinsi dan 133 kabupaten/kota (termasuk Kota Palangka Raya) dan di tingkat nasional dibentuk Forum Anak Nasional. Bahkan di beberapa daerah, Forum Anak dibentuk hingga tingkat kecamatan, desa/kelurahan, RT dan RW.

Kedua, hak sipil dan kebebasan anak perlu dipenuhi, salah satunya melalui pemberian akte kelahiran bagi semua anak di Kota Palangka Raya. Meskipun saat ini tingkat kepemilikan akte kelahiran di Kota Palangka Raya belum mencapai 100%, namun harapan ke depan seluruh anak di Kota Palangka Raya dapat terdaftar dan memiliki kutipan akta kelahiran.

Ketiga, yang perlu ditekankan adalah lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, yang dimaknai bahwa seluruh anak di Kota Palangka Raya harus ada yang mengasuh.

Keempat, terpenuhinya kesehatan dasar dan kesejahteraan. Dalam hal ini Pemerintah Kota Palangka Raya juga harus mulai memperhatikan tersedianya pojok ASI di tempat-tempat umum, kawasan bebas rokok, Rumah Sakit dan Puskesmas Ramah Anak juga perlu dikembangkan, untuk mencegah angka kesakitan pada anak.

Kelima, terpenuhinya hak pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. Selain meningkatkan rata-rata lama anak bersekolah, diharapkan juga dapat melindungi anak dari berbagai bentuk tindak kekerasan di sekolah yang saat ini semakin marak terjadi. Untuk itu, Pemerintah Kota Palangka Raya harus mulai merintis pembentukan Sekolah Ramah Anak, Rute Aman dan Selamat ke/dari Sekolah, serta menciptakan kegiatan-kegiatan kreatif dan rekreatif bagi anak.

Terakhir, terpenuhinya hak anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus. Anak-anak yang termasuk dalam kelompok ini sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebanyak 15 kategori, antara lain: anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak korban kejahatan seksual, anak penyandang disabilitas, dan anak dengan perilaku sosial menyimpang.

Selain itu, Menteri PP-PA, Yohana Yembise yang didampingi oleh Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Achmad Dirani dan Walikota Palangka Raya, M. Riban Satia melakukan kunjungan ke SDN Percobaan dan Taman Bermain Anak di Kelurahan Panarung sebagai percontohan Sekolah Ramah Anak di Palangka Raya. Pada kunjungannya tersebut, Yohana Yembise menandatangani prasasti pendirian Taman Bermain Harati yang berarti taman cerdas.

 

Foto Terkait:

 

 

Foto Bersama

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 16 September 2019

Raih Kategori Nindya, 3 Kab/Kota ini Jadi Tuan Rumah Media Trip KLA 2019 (9)

Kota Semarang, Kabupaten Sleman, dan Kota Balikpapan terpilih menjadi tuan rumah Media Trip Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) 2019
Siaran Pers, Minggu, 15 September 2019

Perkuat Kapasitas Auditor Demi Tingkatkan Program Responsif Gender di Sumatera Barat (42)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyelenggarakan acara Penguatan Kapasitas Auditor Pengawas Daerah dalam Pelaksanaan Perencanaan dan Penganggaran…
Siaran Pers, Minggu, 15 September 2019

Perencanaan Pembangunan Butuh Suara dari Kelompok Anak (44)

Bali (15/9) – Tantangan perlindungan anak dalam pembangunan sangat beragam.
Siaran Pers, Sabtu, 14 September 2019

Forum Anak Bukan Organisasi Eksklusif (90)

Bali (14/9) – Ada satu syarat utama untuk menjadi anggota Forum Anak, yakni masih berusia anak atau di bawah 18…
Siaran Pers, Jumat, 13 September 2019

Perlindungan Setara bagi Anak Penyandang Disabilitas (82)

Disabilitas merupakan bagian dari keberagaman