Menteri PP-PA Tekankan Pentingnya Kampung Ramah Anak

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 3451 Kali

Perjuangan mempersiapkan anak sebagai generasi berkualitas berarti membangun dan mensejahterakan kehidupan anak sedini mungkin, yang dimulai dari masa anak dalam kandungan, kemudian terlahir dan berada di dalam pengasuhan keluarga, hingga kemudian anak dewasa dan masuk ke lingkungan yang lebih besar, yakni lingkungan masyarakat. Dalam proses tumbuh kembang tersebut, anak juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar bisa bertumbuh kembang secara optimal.Kebutuhan tersebut bukan hanya terkait kebutuhan fisik, namun juga kebutuhan sosial dan psikologis, serta lingkungan yang mendukung berkembangnya semua potensi yang dimilikinya.

“Lingkungan yang baik, akan menghasilkan anak yang baik yang selanjutnya akan berkembang menjadi insan dewasa dan berada di lingkungan yang lebih luas lagi, yaitu wilayah dan negara serta dunia. Kita tidak dapat mengharapkan adanya sumber daya manusia yang handal, jika lingkungan untuk anak tidak baik,”ungkap Menteri PP-PA, Linda Amalia Sari Gumelar, dalam acara Talkshow dan Pameran Kampung Ramah Anak di Universitas Trisakti, yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Anak Nasional 2014, Rabu (16/7). Untuk menciptakan lingkungan yang baik tersebut, Linda mengatakan bahwa institusi yang dipimpinnya telah mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pembangunan Keluarga dan juga kebijakan menuju Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Tujuan kebijakan menuju KLA antara lain untuk membangun sebuah sistem pembangunan anak yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan dalam dimensi kabupaten/kota, sehingga percepatan pemenuhan hak-hak anak segera dapat dilakukan oleh semua pihak. Sampai tahun ini,KPP-PA telah mencatat 186 kabupaten/kota yang telah  mengembangkan kab/kotanya menuju layak anak, yang kemudian oleh beberapa daerah seperti di Yogyakarta, Surabaya telah mengembangkan sampai ke tingkat RT/RW yang ramah anak.

Dalam kesempatan yang sama, Linda juga menekankan pentingnya Kampung Ramah Anak sebagai bagian dari pembangunan Kabupaten/Kota layak Anak. “Mengapa hal ini penting? Karena dewasa ini kehidupan kampung juga sangat dinamis, menghadirkan berbagai permasalahan dan tantangan dan dengan semakin terbukanya teknologi, informasi dan komunikasi yang dapat diakses oleh semua pihak, tidak terkecuali anak. Perkembangan kampung yang pesat namun kurang terencana tentu akan menambah resiko anak dalam tumbuh kembangnya,”papar Linda. Terlebih, Linda menambahkan, kasus-kasus trafiking, pernikahan dini eksploitasi dan berbagai masalah sosial lainnya, biasanya bermula dari kondisi kampung yang kurang kondusif bagi anak. Padahal, menurut data proyeksi BPS tahun 2013,  jumlah anak Indonesia adalah 30% dari jumlah total penduduk di Indonesia, yakni 82,5 juta jiwa, dan 57%-nya tinggal di perdesaan/kampung. Angka ini akan bertambah dengan pertumbuhan penduduk 2,1% pertahun.

Untuk itu, Linda berharap agar Perguruan Tinggi pun ikut mengambil perannya dalam mendukung pemerintah dalam upaya pemenuhan hak anak. “Perguruan tinggi mempunyai peran dalam melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dengan melaksanakan fungsi tersebut diharapkan perguruan tinggi dapat mendukung pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan penelitian atau kajian yang mendukung pada perumusan kebijakan tentang pemenuhan hak anak,”ungkap Linda. Disamping itu, Linda juga menambahkan bahwa perguruan tinggi melalui peran pengabdian pada masyarakat dapat juga melakukan fasilitasi pada pemerintah, serta sosialisasi pada masyarakat dalam meningkatkan pemahaman mereka, untuk mewujudkan lingkungan dan komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan anak melalui pengembangan kampung ramah anak.

“Saya sampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada penyelenggara acara ini. Semoga gagasan mengenai Kampung Ramah Anak ini akan mendapat tanggapan dari berbagai kalangan dan sangat diharapkan akan banyak yang dapat segera berupaya menghimpun kekuatan untuk mewujudkannya. Semua ini adalah untuk anak-anak kita, yang dalam waktu dekat, akan menggantikan kita semua untuk berperan dalam kehidupan dan pembangunan negeri kita. Berinvestasi untuk membangun anak, berarti berinvestasi untuk membangun masa depan,”tandas Linda di akhir pembicaraannya. [HN]

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Komitmen Pimpinan Pusat Dan Daerah Pacu Pembangunan Pppa (57)

Kepulauan Seribu (19/09) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Rapat Evaluasi Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan…
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Kab.Sleman Berlari Menuju KLA (73)

"Kabupaten Sleman hingga sekarang terus berlari menuju Kabupaten Layak Anak (KLA)"
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

Nextgen Networking, Wadah Jejaring Mahasiswa Peduli Perlindungan Anak (43)

Jakarta (19/09) – Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Wilayah Barat, Albaet Pikri
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

Didik dan Lindungi Anak adalah Kepuasan Batin (69)

Anak itu, akan menjadi apa nantinya ya tergantung orang tua mereka"
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

INDONESIA MILIKI 117 PUSPAGA SEBAGAI UNIT LAYANAN PENCEGAHAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (252)

Sejak diinisiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada tahun 2016, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) hingga tahun ini…