PEREMPUAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1465 Kali

Menjelang Peringatan Hari Ibu ke-84, beberapa organisasi perempuan mengadakan Sarasehan Tokoh Nasional pada Selasa (13/11) di  Gedung Dharma Wanita Persatuan Pusat, Jakarta. Sarasehan Tokoh Nasional tersebut mengambil tema "Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan". Tujuan pelaksanaan sarasehan adalah untuk melihat sejauh mana perkembangan perempuan Indonesia dan langkah-langkah apa yg akan dilakukan ke depan dalam meneruskan semangat Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928, yang merupakan cikal bakal Peringatan Hari Ibu setiap tahunnya.

Sarasehan dihadiri oleh sejumlah organisasi perempuan seperti Dharma Wanita, SIKIB, PKK, KOWANI, Bhayangkari, Dharma Pertiwi, Martha Tilaar, KPAI, Aisyiah, Koalisi Perempuan Indonesia, GP Anshor, SaLimah, Komnas Perempuan, HMI, Korpri, PERSIT, BKOW, serta dihadiri pula oleh kalangan akademisi dan tokoh-tokoh politik. Sedikitnya 200 orang  tokoh-tokoh perempuan dan pemerhati permasalahan perempuan hadir dalam sarasehan tersebut. Kegiatan yang diketuai oleh Nila F. Moeloek yang juga merupakan ketua Dharma Wanita Persatuan Pusat ini, menghadirkan Marwah Daud, Dewi Motik, Prof. Chamamah, dan Ani Soetjipto sebagai narasumber dan Andy Noya sebagai moderator.

Hadir membuka kegiatan tersebut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar. Dalam sambutannya beliau menyampaikan kondisi perempuan Indonesia pada abad ke-21 ini sangat berbeda dengan masa 84 tahun lalu. Berbeda bukan dari sisi perjuangan, karena perjuangan menghapus diskriminasi dan ketidakadilan masih tetap dilakukan, hanya saja masanya yang sudah berbeda. Saat ini tantangan yang dihadapi perempuan adalah tantangan demokratisasi, penegakan hak asasi manusia, ketahanan pangan dan perubahan iklim, ledakan penduduk, serta kemajuan teknologi informasi. Walaupun kemajuan sudah tercapai untuk gerakan perempuan, namun tantangan terus berkembang. Perempuan harus bisa melihat, beradaptasi, dan melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap tantangan yang terus berkembang tersebut.

Ibu Linda melanjutkan, terkait dengan pembangunan berkelanjutan, yang menjadi sorotan setelah tahun 2015,  yaitu goal (tujuan) yang terkait dengan pengurangan angka kemiskinan (terutama pendapatan di bawah 1 dolar AS perhari), akan tercapainya pendidikan dasar dan menengah, serta penurunan angka kematian bayi, yang  diharapkan tuntas di akhir tahun 2015. Namun masih ada beberapa tujuan yang perlu dilanjutkan lagi pelaksanaannya di tahun 2015, antara lain terkait dengan penurunan angka kematian ibu, penurunan angka HIV/AIDS terutama di kalangan istri-istri yang tertular dari pasangannya, peningkatan luas wilayah hutan yang tertutup pohon, sanitasi dan air bersih, serta pengurangan pemukiman kumuh dan bantuan donor yang belum berperspektif gender.

Beliau berharap pada sarasehan ini dapat dibahas bagaimana upaya organisasi perempuan di dalam mencapai Tujuan Pembangunan Millenium yang masih belum dapat dicapai setelah tahun 2015 dengan pertanyaan “who is doing what, when, where, how”. Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini perlu diangkat dan dijadikan rekomendasi yang nantinya dapat dijadikan acuan di dalam menyusun rencana aksi yang konkrit. Hal ini penting mengingat sumber daya manusia serta anggaran yang tersedia sangat terbatas, sehingga rencana aksi perlu betul-betul efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Pada kesempatan tersebut, Ibu Linda juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran DPP Dharma Wanita Persatuan Pusat atas terselenggaranya Sarasehan Nasional Perempuan dari lintas generasi dan lintas bidang untuk bertukar pikiran dan menggali potensi perempuan dan organisasi perempuan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan bagi bangsa dan masyarakat Indonesia.

Di sela-sela sarasehan, Ibu Linda menyampaikan keprihatinannya terhadap peristiwa pemerkosaan terhadap 2 tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia, kejadian tersebut mengusik ketenangan dan  menimbulkan keprihatinan kita semua. Untuk itu, beliau menghimbau kepada media untuk tidak  melakukan labelisasi terhadap korban dengan tidak menampilkan foto korban maupun mewawancarai keluarganya yang dapat berakibat memperberat kondisi korban dan keluarganya. Beliau juga  berharap Pemerintah  Malaysia  betul-betul bisa menangani secara tepat dan hukum yang ada harus ditegakkan. “Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sesuai dengan fungsi kami di dalam gugus tugas”, tuturnya. (ESN/Humas KPP-PA)

 

Foto Kegiatan:

 

Meneg PP-Pa, Linda Amalia Sari Gumelar memberi sambutan sekaligus membuka Sarasehan Tokoh Nasional dengan Tema" Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan"

di Gedung Dharma Wanita persatuan Pusat, Jakarta pada Selasa (13/11)

 

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

PPT KTPA Bentuk Negara Hadir Lindungi Perempuan dan Anak (37)

Pusat Pelayanan Terpadu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (PPT KTPA) RSUD Beriman Balikpapan yang berdiri sejak Februari 2019 memberikan penanganan…
Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

Teman Sebaya Dukung Sekolah Ramah Anak (46)

Teman Sebaya berperan besar dalam mendorong terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA).
Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

Ayo ke PUSPAGA, Demi Keluarga Berkualitas! (37)

Menjadi orang tua di zaman sekarang memiliki tantangan yang lebih berat daripada menjadi orang tua di zaman dahulu.
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Komitmen Pimpinan Pusat Dan Daerah Pacu Pembangunan Pppa (66)

Kepulauan Seribu (19/09) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Rapat Evaluasi Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan…
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Kab.Sleman Berlari Menuju KLA (85)

"Kabupaten Sleman hingga sekarang terus berlari menuju Kabupaten Layak Anak (KLA)"