DIPREDIKSI, TAHUN 2023 ANGKA KELAHIRAN ANAK MENURUN.

  • Dipublikasikan Pada : Senin, 26 Maret 2018
  • Dibaca : 3963 Kali
...

DIPREDIKSI, TAHUN 2023 ANGKA KELAHIRAN ANAK MENURUN.

 

Di zaman milenial saat ini, banyak anak banyak rezeki sepertinya sudah tidak relevan lagi, secara massive pepatah ini kerap dimaknai bahwa semakin banyak anak dalam suatu keluarga, maka keluarga tersebut akan serta merta memiliki kekayaan yang bertambah. Bagi masing-masing orang, penafsiran tersebut tentu berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa anak merupakan berkat dari Tuhan, dan menganggap bahwa ketika mereka memiliki banyak anak, maka rezeki yang diberikan juga semakin banyak. Namun sayangnya, di Indonesia tidak sedikit keluarga yang memiliki banyak anak, hidupnya semakin memprihatinkan.

 

Biaya yang cukup besar untuk hidup sehari-hari hingga pendidikan, serta perhatian terhadap pola asuh anak sangat dibutuhkan untuk membuat keluarga mereka sejahtera. Namun ketika orang tua hanya memiliki satu atau dua orang anak, peluang untuk memberikan kehidupan yang layak dan menjadikan anak berkualitas menjadi lebih besar. Lantas bagaimana sesungguhnya di Indonesia, apakah pepatah banyak anak banyak rezeki akan tetap eksis di tengah masyarakat kita?

 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak baru baru ini bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, merilis riset mengenai Jumlah dan Tren Penduduk umur 0-17 tahun. 32,24% atau 83,4 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2016 adalah anak-anak. Kondisi ini masih menjadi bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Diprediksikan proporsi anak di Indonesia pada beberapa kurun waktu ke depan tidak akan mengalami perubahan signifikan. Ini artinya hampir satu diantara tiga penduduk Indonesia adalah anak-anak. Data Hasil Proyeksi Penduduk Indonesia secara umum pada tahun 2016 hingga tahun 2022 akan mengalami peningkatan sedangkan pada tahun 2023 mulai menurun yang pada tahun 2022 berjumlah 84.323.000 menjadi 84.032.000.

 

Hal ini dapat diasumsikan sebagai akibat dari mulai menurunnya angka Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia pada masa-masa yang akan datang. TFR merupakan rata rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan sampai dengan akhir masa reproduksinya. Banyak hal yang mempengaruhi angka TFR menjadi turun, salah satunya adalah mulai meningkatnya konsern masyarakat Indonesia terhadap pentingnya kualitas anak didalam pendidikan dan kesehatan serta tingginya kesadaran akan kesetaraan gender sehingga konsep banyak anak sudah mulai ditinggalkan.

 

Pemerintah sendiri juga telah berkomitmen melalui Nawacita dan sejalan dengan pencapaian menuju target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) pada tahun 2030 khususnya terkait pembangunan anak. Secara bertahap menghapus kemiskinan anak, tidak ada lagi anak anak kekurangan gizi dan meninggal karena penyakit yang tidak bisa diobati, menciptakan lingkungan yang ramah terhadap anak, memenuhi kebutuhan pendidikan anak khususnya pendidikan di usia dini dan target lainnya.

 

Dapat dikatakan nasib masa depan anak-anak di Indonesia pada kurun waktu 13 tahun ke depan ditentukan oleh sejauh mana strategi yang sudah disusun oleh Pemerintah untuk dapat diimplementasikan secara berkesinambungan sejak saat ini. Disinilah peran orangtua dan lingkungan terdekat anak untuk menjadikan strategi pemerintah benar-benar efektif demi masa depan ndonesia. Karena seperti yang kita ketahui, anak adalah cerminan wajah bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

 

Dengan mempersiapkan segala macam kebutuhan anak pada masa sekarang, kita mempersiapkan bangsa Indonesia untuk mampu bersaing di tataran global di masa yang akan datang. Pembangunan yang berkesinambungan harus selalu melibatkan anak-anak di dalamnya, membiarkan anak-anak untuk tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan sekarang maka sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa Indonesia di masa yang akan datang oleh karenanya banyak anak bukannya tidak boleh untuk dijalani, namun kualitas anak sangat lebih dibutuhkan saat ini sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 23 Agustus 2019

Pencanangan Desa Kuta menjadi Desa Wisata Ramah Anak Bebas Eksploitasi (42)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mencanangkan Desa Kuta, Kabupaten Lombok Tengah sebagai Wisata Perdesaan Ramah Anak Bebas…
Siaran Pers, Rabu, 21 Agustus 2019

Penguatan Kapasitas Auditor/Pengawas Daerah Dalam Pelaksanaan PPRG Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2019 (24205)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa…
Pengumuman, Rabu, 21 Agustus 2019

PENGUMUMAN HASIL AKHIR SELEKSI TERBUKA PENGISIAN JABATAN PIMPINAN TINGGI PRATAMA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN 2019 (1062)

PENGUMUMAN HASIL AKHIR SELEKSI TERBUKA PENGISIAN JABATAN PIMPINAN TINGGI PRATAMA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK TAHUN 2019
Siaran Pers, Senin, 19 Agustus 2019

SDM Unggul, Dimulai Dari Ibu yang Sehat dan Cerdas (24316)

Jakarta (19/8) – Mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul tentu bukan perkara yang mudah. Keberhasilan Indonesia mempersiapkan generasi bertalenta…
Siaran Pers, Jumat, 16 Agustus 2019

9 Komitmen Kawal PASKIBRAKA Bebas Kekerasan (24487)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyerukan upaya perlindungan, perbaikan sistem pelatihan dan pembinaan yang lebih ramah anak,…