KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA

DIPREDIKSI, TAHUN 2023 ANGKA KELAHIRAN ANAK MENURUN.

  • Dipublikasikan Pada : Senin, 26 Maret 2018
  • Dibaca : 2547 Kali
...

DIPREDIKSI, TAHUN 2023 ANGKA KELAHIRAN ANAK MENURUN.

 

Di zaman milenial saat ini, banyak anak banyak rezeki sepertinya sudah tidak relevan lagi, secara massive pepatah ini kerap dimaknai bahwa semakin banyak anak dalam suatu keluarga, maka keluarga tersebut akan serta merta memiliki kekayaan yang bertambah. Bagi masing-masing orang, penafsiran tersebut tentu berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa anak merupakan berkat dari Tuhan, dan menganggap bahwa ketika mereka memiliki banyak anak, maka rezeki yang diberikan juga semakin banyak. Namun sayangnya, di Indonesia tidak sedikit keluarga yang memiliki banyak anak, hidupnya semakin memprihatinkan.

 

Biaya yang cukup besar untuk hidup sehari-hari hingga pendidikan, serta perhatian terhadap pola asuh anak sangat dibutuhkan untuk membuat keluarga mereka sejahtera. Namun ketika orang tua hanya memiliki satu atau dua orang anak, peluang untuk memberikan kehidupan yang layak dan menjadikan anak berkualitas menjadi lebih besar. Lantas bagaimana sesungguhnya di Indonesia, apakah pepatah banyak anak banyak rezeki akan tetap eksis di tengah masyarakat kita?

 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak baru baru ini bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, merilis riset mengenai Jumlah dan Tren Penduduk umur 0-17 tahun. 32,24% atau 83,4 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun 2016 adalah anak-anak. Kondisi ini masih menjadi bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Diprediksikan proporsi anak di Indonesia pada beberapa kurun waktu ke depan tidak akan mengalami perubahan signifikan. Ini artinya hampir satu diantara tiga penduduk Indonesia adalah anak-anak. Data Hasil Proyeksi Penduduk Indonesia secara umum pada tahun 2016 hingga tahun 2022 akan mengalami peningkatan sedangkan pada tahun 2023 mulai menurun yang pada tahun 2022 berjumlah 84.323.000 menjadi 84.032.000.

 

Hal ini dapat diasumsikan sebagai akibat dari mulai menurunnya angka Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia pada masa-masa yang akan datang. TFR merupakan rata rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan sampai dengan akhir masa reproduksinya. Banyak hal yang mempengaruhi angka TFR menjadi turun, salah satunya adalah mulai meningkatnya konsern masyarakat Indonesia terhadap pentingnya kualitas anak didalam pendidikan dan kesehatan serta tingginya kesadaran akan kesetaraan gender sehingga konsep banyak anak sudah mulai ditinggalkan.

 

Pemerintah sendiri juga telah berkomitmen melalui Nawacita dan sejalan dengan pencapaian menuju target Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) pada tahun 2030 khususnya terkait pembangunan anak. Secara bertahap menghapus kemiskinan anak, tidak ada lagi anak anak kekurangan gizi dan meninggal karena penyakit yang tidak bisa diobati, menciptakan lingkungan yang ramah terhadap anak, memenuhi kebutuhan pendidikan anak khususnya pendidikan di usia dini dan target lainnya.

 

Dapat dikatakan nasib masa depan anak-anak di Indonesia pada kurun waktu 13 tahun ke depan ditentukan oleh sejauh mana strategi yang sudah disusun oleh Pemerintah untuk dapat diimplementasikan secara berkesinambungan sejak saat ini. Disinilah peran orangtua dan lingkungan terdekat anak untuk menjadikan strategi pemerintah benar-benar efektif demi masa depan ndonesia. Karena seperti yang kita ketahui, anak adalah cerminan wajah bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

 

Dengan mempersiapkan segala macam kebutuhan anak pada masa sekarang, kita mempersiapkan bangsa Indonesia untuk mampu bersaing di tataran global di masa yang akan datang. Pembangunan yang berkesinambungan harus selalu melibatkan anak-anak di dalamnya, membiarkan anak-anak untuk tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan sekarang maka sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa Indonesia di masa yang akan datang oleh karenanya banyak anak bukannya tidak boleh untuk dijalani, namun kualitas anak sangat lebih dibutuhkan saat ini sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 15 Februari 2019

PENTINGNYA KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK UNTUK HINDARKAN PAPARAN PORNOGRAFI (52)

Teknologi pada dasarnya bersifat netral layaknya mata pisau bagi para penggunanya, termasuk anak – anak.
Siaran Pers, Kamis, 14 Februari 2019

PERSIAPKAN CSW KE-63, ASIA-PASIFIK GELAR PERTEMUAN (75)

Bangkok (13/02) – Menyambut sidang Commision on the Status of Women atau CSW ke-63 yang akan digelar pada 11-22 Maret…
Siaran Pers, Senin, 11 Februari 2019

GAUNGKAN PROGRAM PPPA DI AKHIR PERIODE KERJA     (247)

ahun 2019 merupakan tahun terakhir periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014 – 2019. Namun di sisa waktu yang…
Siaran Pers, Sabtu, 09 Februari 2019

PERS RESPONSIF GENDER LINDUNGI PEREMPUAN, ANAK, DAN WARTAWAN (154)

Di hadapan Presiden RI, Joko Widodo hari ini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menandatangani nota kesepahaman antara…
Siaran Pers, Jumat, 08 Februari 2019

STOP KEKERASAN TERHADAP ANAK MELALUI MEDIA (154)

Media massa di Indonesia dinilai masih belum ramah anak. Meski isu anak dalam tema-tema tertentu telah menjadi isu menarik yang…