Anak-anak Korban Perang

  • Dipublikasikan Pada : Rabu, 24 Februari 2016
  • Dibaca : 8397 Kali

Perang, di belahan dunia mana pun, senantiasa menimbulkan akibat yang mengerikan dan menjadi pilihan terakhir yang seharusnya dihindari meski ada pihak-pihak yang tengah bersengketa tak juga mencapai kata sepakat. Seolah kita tak pernah belajar dari sejarah ketika bangsa di dunia ini sudah mengklaim sebagai bangsa yang beradab, ternyata perang tetap berkobar di sejumlah tempat. Dan yang terasa menyesakkan adalah ketika anak- anak yang harus ikut menanggung dosa dan kesalahan elite politik yang haus darah.

Di pengujung akhir tahun 2008, perang pecah di Jalur Gaza. Serangan brutal Israel ke wilayah Gaza terus berlanjut. Lebih dari 700 gempuran yang mereka lakukan menyebabkan 436 warga Palestina tewas, termasuk 75 anak-anak. Sedikitnya 2.290 orang cedera. Dari Gaza, milisi Hamas juga tak mau kalah, mereka membalas serangan Israel dengan melepas sekitar 500 roket ke wilayah Israel dan menewaskan empat warga sipil.

Perang senantiasa dikutuk bukan karena di sana kekerasan hadir tanpa kompromi dan darah manusia dihalalkan, tetapi karena korban pertama yang paling menderita akibat perang tak pelak adalah anak-anak dan warga sipil pada umumnya. Hati siapa yang tak miris ketika menyaksikan foto mayat anak-anak yang bergelimpangan akibat gempuran rudal musuh dan tatapan mata yang kosong dari anak-anak yang kebingungan karena tiba-tiba harus kehilangan orangtua dan sanak keluarganya akibat serangan bom atau tembakan peluru tajam.

Makin meningkat

Dalam dua dasawarsa terakhir dilaporkan, puluhan juta anak hidup menderita dan bahkan tewas akibat peperangan yang berkecamuk di sejumlah negara. Akibat perang yang tak kunjung usai, korban warga sipil dari tahun ke tahun makin meningkat, khususnya anak-anak. Menurut laporan Unicef (1996), pada Perang Dunia I, korban warga sipil semula hanya 14 persen, pada Perang Dunia II melonjak hingga 70 persen, dan pada tahun 1990 korban perang dari warga sipil naik menjadi 90 persen.

Anak-anak yang semestinya memiliki hak untuk tumbuh kembang secara wajar ketika perang berkecamuk seluruh hak mereka bukan saja ditelantarkan, tetapi tak jarang bahkan dilanggar begitu saja tanpa sedikit pun ada rasa belas kasihan. Perang, apa pun alasannya, adalah sebuah tindak kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hak- hak anak yang paling brutal.

Di sejumlah negara yang terjerumus dalam peperangan, risiko yang sangat mencemaskan namun selalu tak terhindarkan menimpa anak-anak yang tinggal di daerah konflik bersenjata. Selain kecacatan dan kehilangan nyawa adalah trauma, dan bahkan risiko anak-anak yang tak berdosa itu menjadi korban eksploitasi untuk terlibat langsung dalam proyek balas dendam yang tak kunjung usai.

Tentara anak

Fenomena anak-anak yang terlibat sebagai tentara anak adalah kasus yang sudah lama menjadi keprihatinan dunia internasional, tetapi hingga kini jumlahnya tak juga berkurang. Setiap kali konflik senjata pecah dan bom-bom dijatuhkan ke wilayah musuh, maka detik itu pula akan muncul anak-anak yang jiwanya terluka: yang siap ikut mengangkat senjata membalas dendam membunuh lawan karena telah merenggut nyawa orang- orang yang mereka cintai. Bisa dibayangkan, apa yang berkecamuk di benak anak-anak korban perang itu ketika segala sesuatunya tiba-tiba hilang.

Anak-anak korban perang niscaya akan tumbuh dengan jiwa yang terluka, dijejali dengan setumpuk dendam kesumat yang tak akan hilang kapan pun. Pengalaman telah banyak membuktikan bahwa anak-anak korban perang biasanya tumbuh menjadi tentara anak yang menakutkan: mereka bahkan tak jarang menjadi bagian dari pasukan berani mati yang rela bunuh diri asalkan memperoleh kepuasan karena berhasil membunuh lawan yang telah merenggut nyawa orangtua, teman, dan orang-orang yang mereka cintai.

Selain menimbulkan kematian, tak sekali-dua kali perang juga menimbulkan kecacatan fisik yang permanen, luka batin yang mendalam, dan harga diri yang terkoyak. Perang yang terjadi di Bosnia-Herzegovina dan Kroasia, Banglades, Kamboja, Haiti, Siprus, Rwanda, Somalia, Uganda, dan di mana pun telah banyak membuktikan bagaimana nasib anak-anak korban perang.

Anak-anak korban perang niscaya akan terlunta-lunta, kelangsungan hidupnya terganggu, bahkan yang mengerikan adalah ketika sebagian anak-anak perempuan kemudian juga menjadi korban efek samping perang: mereka diperkosa tentara musuh sebagai tanda penundukan sekaligus senjata untuk melakukan tekanan untuk mendemoralisasi semangat lawan.

Menurut kesepakatan internasional, perang jika memang harus terjadi atau tidak lagi terhindarkan, maka anak-anak sesungguhnya mutlak harus dipastikan tidak menjadi korban situasi. Akan tetapi, yang ironis, di kalangan bangsa-bangsa yang mengaku paham hak asasi manusia dan mengklaim sebagai bangsa yang bermoral ternyata yang mereka lebih kedepankan tampaknya adalah kepentingan yang sifatnya pragmatis, harga diri yang terlalu egois, dan arogansi.

Alih-alih bersedia memilih jalan damai atau minimal menyelesaikan sengketa lewat jalur dialog, tidak sedikit pemimpin negara di dunia ini ternyata lebih memilih perang sebagai jawaban atas ketidaksabaran dan rasa superordinasi. Bahkan, tidak jarang terjadi, agama pun kemudian menjadi dasar pembenar ditempuhnya jalan perang untuk menghilangkan musuh atau legitimasi untuk membela harga diri dan dalih demi kepentingan agama masing-masing pihak yang bersengketa.

Bagi anak-anak yang menjadi korban perang, situasi konflik yang hadir di sekitar mereka bahkan bukan tidak mungkin justru menjadi proses pembelajaran dan bentuk sosialisasi tindak kekerasan yang paling masif dan mengindoktrinasi. Menangani anak-anak yang menjadi korban perang dengan bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan untuk merehabilitasi luka-luka fisik, benar untuk jangka pendek memang diperlukan.

Tetapi, lebih dari sekadar penanganan yang sifatnya darurat-penyelamatan, bagi anak- anak yang menjadi korban perang justru pertolongan yang paling dibutuhkan adalah bagaimana kita semua mampu merekonstruksi kembali sejarah kelam yang mereka baru lalui dan segera belajar bahwa perang adalah cara biadab yang sama sekali harus dihindari untuk mencegah tumbuhnya benih-benih peperangan dan kekerasan di masa yang akan datang.

Penulis : Khrisna Bayu

Publikasi Lainya

Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Indikator Kinerja Utama Sekretarian Kementerian PPPA Tahun 2020 (15)

Indikator Kinerja Utama Sekretarian Kementerian PPPA Tahun 2020
Dokumen Kinerja, Selasa, 25 Februari 2020

Laporan Kinerja Sekretariat Kementerian PPPA Tahun 2019 (10)

Laporan Kinerja Sekretariat Kementerian PPPA Tahun 2019
Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Rencana Strategis Sekretariat Kementerian PPPA 2015-2019 (Revisi) (9)

Rencana Strategis Sekretariat Kementerian PPPA 2015-2019 (Revisi)
Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Perjanjian Kinerja Sekretariat Kemen PPPA 2020 (12)

Perjanjian Kinerja Sekretariat Kemen PPPA 2020
Siaran Pers, Senin, 24 Februari 2020

Peran Serta Dunia Usaha, Dorong Hak Anak Terpenuhi (85)

Kemen PPPA meresmikan Gerai Starbucks Community Store pertama di Indonesia di Pasar Tanah Abang,