
Wamen PPPA Dorong Pendekatan Ekosistem dan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pengembangan Anak Usia Dini
Siaran Pers Nomor: B-120/SETMEN/HM.02.04/4/2026
Jakarta (1/4) – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan menekankan pentingnya pendekatan ekosistem dalam pengembangan anak usia dini sebagai fondasi strategis pembangunan Indonesia. Hal itu disampaikan Wamen PPPA dalam acara Executive Roundtable: Catalyzing an ECED Collaborative for Indonesia yang diselenggarakan Tanoto Foundation, pada Selasa (31/3).
“Upaya peningkatan kualitas anak tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi lintas sektor, mulai dari pengasuhan, kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan. Jika kita serius membangun masa depan Indonesia, maka kita harus serius berinvestasi pada fase awal kehidupan anak,” ujar Wamen PPPA.
Wamen PPPA mengatakan, masa awal kehidupan merupakan fase krusial karena hingga 90 persen perkembangan otak anak terjadi sebelum usia lima tahun. Hal ini menjadikan investasi pada anak usia dini tidak hanya sebagai agenda sosial, tetapi juga sebagai strategi penting dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.
“Namun demikian, masih banyak tantangan yang dihadapi Indonesia seperti stunting, keterbatasan akses layanan pendidikan, serta lemahnya lingkungan pengasuhan. Selain itu, sistem yang masih terfragmentasi masih menjadi hambatan dalam menghadirkan layanan yang optimal bagi anak,” kata Wamen PPPA.
Wamen PPPA menilai pendekatan sektoral yang selama ini berjalan tidak lagi relevan. Wamen PPPA mengatakan anak tumbuh dalam satu ekosistem yang saling terhubung, sehingga dibutuhkan integrasi kebijakan dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.
“Anak tumbuh dalam ekosistem yang mencakup keluarga, komunitas, dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka. Dalam ekosistem ini, terdapat lima pilar utama dalam tumbuh kembang anak, yakni hak sipil, pengasuhan, kesehatan dan gizi, pendidikan, serta perlindungan. Kelima pilar tersebut harus diperkuat secara bersamaan agar perkembangan anak dapat optimal. Ketika satu pilar lemah, maka seluruh perkembangan anak ikut terdampak,” kata Wamen PPPA.
Lebih lanjut, Wamen PPPA menekankan pentingnya peran ekonomi pengasuhan (care economy) dalam mendukung tumbuh kembang anak. Wamen PPPA menilai beban pengasuhan yang selama ini banyak ditanggung perempuan sering kali tidak terlihat dan kurang mendapat dukungan. Padahal, kondisi ekonomi dan keamanan perempuan sangat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak.
Sebagai contoh implementasi ekosistem, Wamen PPPA mengangkat inisiatif kebun komunitas yang tidak hanya berfungsi sebagai program pertanian, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta menciptakan ruang aman di masyarakat. Program ini mampu memberikan dampak langsung terhadap perbaikan gizi anak dan kesejahteraan keluarga.
“Saya mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga filantropi, untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pengembangan anak. Masa depan anak Indonesia hanya dapat diwujudkan melalui aksi bersama yang terintegrasi, dengan fokus pada penguatan pengasuhan, gizi, ketahanan keluarga, dan lingkungan yang aman,” pungkas Wamen PPPA.
Sementara itu, CEO Tanoto Foundation, Benny Lee menyampaikan Indonesia saat ini memiliki sekitar 31 juta anak usia dini yang menjadi penentu utama masa depan bangsa, baik dari sisi pembangunan ekonomi maupun daya saing global. Namun, tantangan besar masih dihadapi, mulai dari tingginya angka malnutrisi hampir satu dari lima anak mengalami stunting hingga rendahnya akses layanan dasar seperti imunisasi dan pendidikan anak usia dini. Kondisi ini membuat banyak anak masuk sekolah tanpa kesiapan kognitif dan sosial yang memadai.
BIRO HUMAS DAN UMUM
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 01-04-2026
- Kunjungan : 42
-
Bagikan: