
Bangun Kemitraan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan di ASEAN Melalui Batik
Siaran Pers Nomor: B- 378/SETMEN/HM.02.04/10/2021
Jakarta (12/10) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mendukung peran perempuan dalam mewariskan batik sebagai kesenian khas Indonesia. Industri batik yang banyak digeluti kaum perempuan merupakan bagian dari produk industri kreatif, khususnya di bidang fashion yang memberikan sumbangsih dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian bangsa.
“Bagi kami bangsa Indonesia, batik bukan hanya produk seni lukis kain, namun juga sebuah ekspresi kehangatan, kesejahteraan budaya dan spiritual masyarakat Indonesia. Dengan demikian, membuat dan memakai batik bagi kita adalah bagian dalam menanamkan identitas, budaya, dan warisan spiritual bangsa. Batik erat kaitannya dengan perempuan dan fashion, dan fashion adalah bagian dari industri kreatif yang begitu besar,” terang Menteri Bintang dalam rangkaian kegiatan the 4th ASEAN Ministerial Meetings on Women (AMMW), Webinar The Beauty of Batik as Cultural Heritage in Women’s Hand (11/10).
Menteri Bintang menerangkan terdapat sekitar 47 ribu unit usaha batik tersebar di 101 sentra batik, dari jumlah tersebut lebih dari 200 ribu pembatik perempuan dipekerjakan. Jumlah perempuan yang terlibat dalam industri batik diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam bidang fashion dan perdagangan.
Webinar ini diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman yang mendalam tentang batik, keindahan, ketenaran, dan kontribusinya bagi kesejahteraan nasional, tetapi juga dapat membangun kemitraan yang lebih kuat di antara perempuan pebisnis di Indonesia dan ASEAN untuk bekerja bahu membahu, bermitra dengan pemangku kepentingan terkait untuk mencapai ketahanan sosial ekonomi bagi masyarakat, planet, kemakmuran, kemitraan, dan kekuatan ASEAN.
“Kita melihat bahwa ada korelasi budaya batik dengan pemberdayaan ekonomi perempuan. Selain itu ada hubungan antara batik yang banyak digeluti perempuan dengan pertumbuhan ekonomi bangsa,” jelas Menteri Bintang.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Bintang turut memberikan apresiasi pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang secara terus-menerus mendukung industri kreatif, termasuk di dalamnya batik. Menteri Bintang percaya dengan dukungan masyarakat, baik laki-laki dan perempuan serta pemerintah, akan memberikan dampak kepada batik sebagai simbol seni lukis agar mengakar secara lokal dan disukai secara global.
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf, Fadjar Hutomo mengungkapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi yang ditetapkan UNESCO didominasi Industri Kecil dan Menengah (IKM). Oleh karenanya, batik menjadi penggerak dan pemacu roda perekonomian bagi sebagian rakyat Indonesia yang patut untuk terus didukung.
“Kemenparekraf berupaya mendorong UMKM kreatif di Indonesia untuk naik kelas dan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Momentum pemulihan ekonomi harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena UMKM merupakan pilar kebangkitan ekonomi nasional, sebagaimana yang telah disampaikan Presiden Jokowi. Adapun strategi yang dilakukan Kemenparekraf pada masa pandemi Covid-19 dengan melakukan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi,” ungkap Fadjar.
Fadjar menambahkan kolaborasi antara Kemen PPPA dan ASEAN Women Entrepreneurs Network (AWEN) Indonesia diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat para pengrajin, pengusaha, dan pecinta batik untuk melestarikan batik Indonesia bagi generasi muda dan pemulihan ekonomi bangsa yang terdampak pandemi Covid-19.
Vice President IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Ira Sofwan menyampaikan upaya yang dilakukan pihaknya bekerjasama dengan pemerintah untuk menghidupkan kembali batik sebagai warisan budaya dan ketenaran para perempuan Indonesia melalui kegiatan webinar. Dirinya menambahkan kecantikan dan perjuangan perempuan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik tidak bisa dipisahkan dari batik.
“Bagi kami di AWEN (ASEAN Women Entrepreneurs Network) Indonesia, merupakan suatu kehormatan untuk mengadakan acara ini untuk mengingatkan betapa artistiknya perempuan Indonesia dan sebagai upaya mengangkat produk seni yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kami di AWEN berfokus untuk memperkuat inovasi bisnis, penetrasi ke pasar digital dan akses permodalan dan keuangan. Anggota kami sebagian besar adalah UMKM perempuan yang mencapai 98% dari sekitar 30.000 pengusaha perempuan di seluruh Indonesia. UMKM saat ini menjadi penyumbang terbesar bagi PDB Indonesia dan terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Kami yakin bahwa para pelaku bisnis di Indonesia dan para pelaku bisnis di ASEAN akan semakin berkontribusi terhadap perekonomian terlepas dari tantangan berat pandemi Covid-19,” tutur Ira.
Pemilik Galeri Batik Jawa, Lauretna Adhisakti mengungkapkan peluang batik dalam perspektif global. Pertama terkait produk buatan tangan dan natural yang kini digemari, sehingga itu dapat menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan. Kedua terkait mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Ketiga, terkait peran komunitas dan masyarakat di era 5.0 yang menekankan masyarakat sebagai pusat kehidupan yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan penyelesaian permasalahan-permasalahan sosial dengan sistem integrasi antara ruang siber dan fisik. Oleh karenanya, peran komunitas pengrajin menjadi sangat penting dan harus lebih banyak mengambil bagian.
“Galeri Batik Jawa telah menetapkan strategi dan melakukan tindakan nyata untuk memanfaatkan peluang tersebut. Karena batik bukan hanya utuk generasi muda dan lokal, tetapi batik adalah untuk semua orang, seluruh ASEAN dan dunia. Batik merupakan penggerak keberlanjutan dan tren masa depan erat kaitannya dengan produk yang kembali ke alam. Itulah sebabnya, Galeri Batik Jawa mencoba berkontribusi untuk mendorong SDGs pada semua tindakan dan strategi kami. Karena kami memahami bahwa batik bukan hanya tentang keindahan atau penggerak ekonomi, tetapi juga pendorong keberlanjutan,” ucap Lauretna.
Dalam acara tersebut turut hadir pemilik Batik Riana Kesuma, Riana Kesuma yang menyampaikan alasan semua pihak harus mendukung batik karena 70-80 persen dari pelaku usaha batik adalah perempuan. Oleh karenanya, perempuan diharapkan bisa mengambil alih tenaga kerja sebagai pelaku batik.
BIRO HUKUM DAN HUMAS
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 12-10-2021
- Kunjungan : 1575
-
Bagikan: