
Cegah Stunting, Penuhi Gizi Anak di Seribu Hari Pertama Kehidupan
Siaran Pers Nomor: B- 516/SETMEN/HM.02.04/12/2021
Jakarta (19/12) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga menyampaikan persoalan stunting masih menjadi isu nasional yang mengancam pemenuhan hak dasar bagi anak. Pemerintah telah menetapkan target untuk menurunkan angka stunting minimal menjadi 14 persen pada 2024. Adanya pandemi Covid-19, menjadi tantangan yang tidak mudah dalam upaya pemenuhan hak anak sekaligus mempercepat penurunan stunting, namun, Menteri Bintang menekankan jika semua pihak memperkuat sinergi dan bergerak bersama, maka penyelesaian masalah stunting bukanlah hal yang mustahil.
“Salah satu hak anak yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak yaitu hak untuk mendapatkan standar kesehatan dan perawatan medis terbaik, air bersih, makanan bergizi, dan lingkungan tinggal yang bersih dan aman. Termasuk terbebas dari stunting adalah hak dasar anak yang juga merupakan hak asasi manusia,” ujar Menteri Bintang dalam Webinar Nasional ‘Stunting Prevention for Nation’s Next Generation What Youth Can Contribute’ yang dilaksanakan dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia dan Hari Ibu 2021 (18/12).
Menteri Bintang menjelaskan isu stunting berkaitan erat dengan isu pengasuhan. Kemen PPPA telah berupaya menjalankan salah satu isu prioritas yang merupakan arahan Presiden RI Joko Widodo, yaitu ”peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak.” Meskipun demikian, Menteri Bintang menegaskan peran pengasuhan tidak hanya menjadi urusan perempuan atau ibu saja, namun juga merupakan tugas bagi ayah. Mengingat melindungi anak adalah tugas yang setara dan sejajar antara ayah dan ibu.
“Cara pandang yang setara dan sikap saling mendukung antara ayah dan ibu dalam pengasuhan, merupakan kunci untuk mencegah stunting, melalui pemenuhan gizi bagi anak pada seribu hari pertama kehidupannya,” tegas Menteri Bintang.
Menteri Bintang berpesan kepada para ibu dan calon ibu untuk terus menambah pengetahuan dan informasi mengenai pemenuhan gizi anak yang seimbang, serta berkomitmen untuk memberikan ASI eksklusif pada anak. “Bagi para ayah, kita harus dapat bersama-sama menyuarakan pentingnya kesetaraan gender dalam pengasuhan. Ayah sebagai kepala keluarga, harus dapat membangun empati, berpartisipasi aktif dalam mengambil keputusan, mempunyai sikap positif, dan juga mempunyai pengetahuan luas tentang pengasuhan anak,” terang Menteri Bintang.
Menteri Bintang juga berpesan kepada para mahasiswa kedokteran yang merupakan garda terdepan dalam segala pengambilan keputusan, untuk terus memberikan kritik, saran, dan pendapat yang membangun terhadap berbagai program dan pengambilan keputusan mengenai penurunan stunting. “Teruslah menjaga idealisme, prinsip, dan tujuan dalam memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa di bidang kesehatan,” pesan Menteri Bintang.
Lebih lanjut, Menteri Bintang mengajak semua pihak untuk memperkuat komitmen dalam memastikan anak-anak Indonesia dapat terbebas dari stunting di masa depan. “Sehat, adalah syarat utama bagi anak untuk dapat meraih mimpi-mimpinya, serta menjadi anak yang cerdas, pintar, dan berkualitas, menuju Indonesia Layak Anak 2030 dan Indonesia Emas 2045,” pungkas Menteri Bintang.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menegaskan diperlukan aksi nyata dengan melakukan loncatan dalam mengejar target Pemerintah untuk menurunkan angka stunting menjadi 14 persen pada 2024 mendatang.
Hasto menyampaikan pentingnya reformasi dan revolusi dalam mencegah dan menurunkan stunting, di antaranya melalui strategi merawat yang sudah lahir dan merawat yang akan lahir. Pada strategi ini fokus dilakukan di masa seribu hari pertama kehidupan anak. Selain itu, memberikan pendampingan kepada pasangan calon pengantin, maupun perempuan calon ibu di masa sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga setelah melahirkan sampai anak menginjak usia dua tahun, proses ini harus dikawal dengan baik.
Sementara itu, President of Center for Indonesian Medical Students' Activities (CIMSA) Indonesia 2021 – 2022, Syaogi Ahmed Azizy menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi dirinya dan rekan-rekan lain sebagai mahasiswa kedokteran dalam menyosialisasikan dan mengadvokasi masyarakat terkait upaya pencegahan stunting. Adapun berbagai tantangan tersebut di antaranya yaitu kurangnya pengetahuan para mahasiswa terkait kondisi masyarakat di lapangan, karena materi pembelajaran lebih bersifat teori, dan kurangnya kesadaran juga pemahaman masyarakat terkait pentingnya pencegahan stunting sebagai isu prioritas.
Syaogi menambahkan masih rendahnya penerimaan masyarakat terhadap edukasi kesehatan yang diberikan para mahasiswa karena dianggap belum berpengalaman, serta kurangnya literasi edukasi masyarakat terkait pencegahan stunting juga menjadi tantangan lainnya yang mereka temui. Untuk itu, Syaogi mengajak seluruh mahasiswa kedokteran untuk melakukan eksekusi nyata yang mudah dilakukan sesegera mungkin dalam mendorong penurunan stunting, seperti gencar melakukan promosi kesehatan, mengedukasi keluarga yang memiliki anak kecil terkait pentingnya pemenuhan gizi dan pemeriksaan kesehatan di periode seribu HPK, berkolaborasi bersama Pemerintah, LSM, maupun lapisan masyarakat lainnya untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat terkait pencegahan stunting.
BIRO HUKUM DAN HUMAS
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 19-12-2021
- Kunjungan : 2032
-
Bagikan: