
Forum Anak Nasional 2026, Dorong Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab untuk Dukung Kesehatan Mental Anak
Siaran Pers Nomor: B-281/SETMEN/HM.02.04/6/2026
Jakarta, (29/6) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerja sama dengan Save the Children Indonesia menyelenggarakan Webinar Literasi Digital: Artificial Intelligence (AI) dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental secara virtual melalui Zoom Meeting pada Minggu (28/6). Kegiatan yang merupakan rangkaian Lokakarya Forum Anak Nasional (FAN) 2026 ini diikuti oleh 270 peserta yang terdiri atas Alat Kelengkapan Forum Anak Nasional, Forum Anak Daerah dari berbagai provinsi, kelompok anak disabilitas, perwakilan sekolah SMP/SMA, serta pendamping dari seluruh Indonesia. Webinar ini bertujuan meningkatkan literasi digital anak sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) secara bijak, aman, dan bertanggung jawab untuk mendukung kesehatan mental anak di era digital.
Plt. Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kemen PPPA, Rini Handayani, dalam keynote speech sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menegaskan bahwa AI merupakan teknologi yang dapat menjadi sarana memperkuat kreativitas dan inovasi apabila digunakan secara bertanggung jawab. Anak-anak juga diingatkan untuk menjaga etika dalam ruang digital, memahami pentingnya jejak digital, serta berani mengenali kondisi emosional dan mencari bantuan kepada orang dewasa tepercaya ketika menghadapi persoalan kesehatan mental. Selain itu, Kemen PPPA terus mendorong partisipasi bermakna anak sebagai Agen 2P pelopor dan pelapor (2P) dalam menciptakan lingkungan digital yang aman menuju Indonesia Emas 2045.
Pelaksanaan webinar diawali dengan pemaparan mengenai Kebijakan Keselamatan Anak (Child Safeguarding Policy) oleh Save the Children Indonesia yang menjelaskan berbagai potensi risiko dalam aktivitas daring, mulai dari perundungan siber, eksploitasi seksual online, hingga pencurian identitas. Peserta dibekali panduan praktis untuk menjaga keamanan selama mengikuti kegiatan virtual, termasuk perlindungan data pribadi, etika berkomunikasi, dan mekanisme pelaporan apabila terjadi situasi yang membahayakan.
Selanjutnya, Tata Sudrajat selaku Senior Director Advocacy Campaign and Government Relations, Save the Children Indonesia menekankan bahwa pesatnya perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan kesehatan mental, deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak, serta dukungan keluarga dan sekolah. Anak dipandang sebagai subjek yang memahami pengalaman digitalnya sendiri sehingga keterlibatan mereka menjadi penting dalam penyusunan berbagai strategi edukasi mengenai AI dan keamanan digital.
Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) Perspektif Anak Terhadap AI, narasumber dari Digital Youth Council (DYC) menyampaikan perspektif anak mengenai penggunaan AI. Hasil diskusi menunjukkan bahwa AI telah dimanfaatkan sebagai sarana belajar, mencari informasi, hingga tempat berbagi cerita ketika merasa kesepian. Meski memberikan manfaat berupa kemudahan akses informasi, peningkatan kreativitas, dan rasa didengarkan, penggunaan AI juga berpotensi menimbulkan ketergantungan emosional, menurunkan kemampuan berpikir kritis, serta meningkatkan risiko paparan informasi yang tidak akurat apabila digunakan secara berlebihan. Sebagai bentuk partisipasi aktif, peserta FGD juga merancang berbagai inovasi berbasis AI yang berorientasi pada kesehatan mental dan perlindungan anak.
Melalui sesi diskusi panel, para narasumber yang terbagi kedalam 2 materi yaitu Behind the Screen Kamu: AI dan Hak Kamu oleh Nenden Sekar Arum Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network - SafeNet serta Dampak Penggunaan AI yang Tidak Bijak pada Anak dan Orang Muda oleh Diana Haryana Pendiri Yayasan Sejiwa turut mengajak peserta memahami hak-hak digital anak, pentingnya menjaga privasi data, membatasi waktu penggunaan gawai, serta melakukan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan AI. Webinar juga mengangkat dampak penggunaan AI yang tidak bijak terhadap kesehatan mental anak dan remaja, sekaligus memperkenalkan pendekatan Look, Listen, and Link (3L) sebagai langkah awal dalam mengenali dan membantu teman yang mengalami masalah kesehatan mental akibat penggunaan teknologi digital.
Sebagai tindak lanjut, peserta diperkenalkan dengan platform e-learning Kompetensi Digital yang menyediakan materi pembelajaran interaktif dengan 7 sesi utama mengenai Identitas Digital, Literasi Digital, Manajemen Privasi, Perlindungan Digital (simulasi kasus phishing/scam), Empati Digital, Manajemen Stres, dan Dukungan Sebaya. Platform ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan agar anak-anak semakin tangguh, cerdas, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.
Webinar ditutup dengan refleksi peserta yang menilai kegiatan berlangsung interaktif dan memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya menyeimbangkan pemanfaatan AI dengan kesehatan mental. Melalui semangat "Cerdas Berdigital, Sehatkan Mental", seluruh peserta berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi secara positif serta bersama-sama mewujudkan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan ramah anak.
Tentang Forum Anak Nasional
Forum Anak Nasional (FAN) adalah organisasi dan wadah pemenuhan hak partisipasi anak yang dibina oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia. FAN hadir sebagai jembatan resmi antara anak-anak Indonesia dengan pemerintah. Forum Anak ada di berbagai skala regional, mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga skala nasional atau yang biasa disebut FAN. FAN bergerak dengan peran utama sebagai Pelopor dan Pelapor (2P) serta Partisipasi Anak dalam Perencanaan Pembangunan (PAPP), FAN berkomitmen untuk aktif menyuarakan aspirasi, memperjuangkan pemenuhan hak-hak anak, serta mendorong perlindungan anak demi terwujudnya masa depan Indonesia yang Layak Anak.
BIRO HUMAS DAN UMUM
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 29-06-2026
- Kunjungan : 422
-
Bagikan: