
Kemen PPPA Ajak Seluruh Pihak Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Keluarga
Siaran Pers Nomor: B-283/SETMEN/HM.02.04/08/2021
Jakarta (12/08) – Plt. Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Indra Gunawan menekankan pemberdayaan perempuan dapat meningkatkan kualitas hidup anak dan kesejahteraan serta kualitas keluarga Indonesia. Dengan kualitas keluarga yang baik, anak-anak akan mendapat hak-haknya dan terlindungi dari paksaan menjadi tenaga kerja dalam usia belia dan perkawinan muda.
“Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi perempuan melalui sektor UMKM, upaya untuk mengurangi angka pekerja anak, dan menekankan pentingnya perlindungan bagi anak, serta bagaimana pemberdayaan perempuan bisa membantu meningkatkan kualitas hidup keluarga di Indonesia perlu dilakukan melalui sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak. Untuk itu, perlu kita bangun komitmen bersama bagaimana pemberdayaan perempuan untuk mewujudkan kualitas keluarga Indonesia yang lebih baik,” ujar Indra dalam Webinar Women as Change Maker: Komitmen Bersama Pemberdayaan Perempuan untuk Mewujudkan Kualitas Keluarga Indonesia yang Lebih Baik yang diselenggarakan Kemen PPPA bekerjasama dengan Kumparan.
Indra mengatakan Presiden Joko Widodo telah memberikan amanat kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk menjalankan 5 isu prioritas untuk diselesaikan pada periode 2020 – 2024, antara lain; peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan; peningkatan peran ibu dan keluarga dalam pendidikan/pengasuhan anak; penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak; penurunan pekerja anak; dan pencegahan perkawinan anak.
“Dalam menyelesaikan lima arahan tersebut, Kemen PPPA membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Seperti yang sudah banyak diketahui, selama ini masih ada banyak pandangan salah terhadap perempuan dan anak. Sehingga membuat mereka sulit untuk mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang sama dalam kehidupan sehari-hari dan program pembangunan seperti laki-laki. Hal ini harus didukung dengan maksimal dan membutuhkan perhatian serius serta kerja keras dari seluruh pihak baik pemerintah maupun masyarakat guna mencapai hasil yang maksimal,” ujar Indra.
Ashoka Regional Leader sekaligus Pendiri Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), Nani Zulminarni mengatakan dalam sejarah peradaban dunia, termasuk Indonesia sejak dahulu perempuan adalah pelaku ekonomi langsung, mulai dari memproduksi hingga memasarkan.
“Perempuan juga merupakan pendukung primer dari perkembangan ekonomi melalui pekerja tanpa upah atau pekerja domestik rumah tangga yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap ekonomi keluarga. Namun, hingga saat ini perempuan dalam ekonomi mengalami berbagai persoalan dan hambatan yang menimbulkan ketimpangan. Padahal jika dari ekonomi saja perempuan bisa berdaya, maka mereka dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas keluarga apalagi di jaman sekarang ini ketahanan keluarga menjadi sangat penting,” ujar Nani.
Nani menambahkan untuk mewujudkan hidup dan keluarga yang berkualitas yang tak kalah penting juga bagaimana dalam proses pemberdayaan perempuan harus mengutamakan kualitas keluarga dan kesetaraan gender agar perempuan juga dapat menjadi change maker dalam keluarga atau lingkungannya.
“Setiap anak memiliki super power dalam perubahan yang memberikan perubahan dalam lingkungannya, untuk itu peran pengasuhan anak menjadi hal yang penting. Setiap orangtua bertanggung jawab menciptakan ruang untuk anak-anak memiliki empat hal yakni, kognitif empati, kolaborasi dan bekerja tim, kepemimpinan masa depan yang bersifat kolektif, dan skills change making bagaimana semua orang bisa memiliki pemikiran untuk membuat perubahan. Dari perubahan ini dapat menjadi faktor pendukung peningkatan kualitas keluarga Indonesia,” ujar Nani.
Sementara itu, Direktur Komunitas & Kemitraan Du Anyam, Hanna Keraf mengatakan perempuan bisa berdaya jika diberikan akses, kesempatan, dan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Dua Anyam hadir untuk pemberdayaan perempuan berangkat melalui memanfaatkan kesempatan dan kemampuan yang dimiliki oleh perempuan dan sumber daya alam di sekitar mereka.
“Menganyam merupakan warisan turun temurun yang dimiliki oleh perempuan maka dari itu, Dua Anyam hadir dengan tujuan memberdayakan perempuan pelaku ekonomi khususnya di timur Indonesia, untuk memulai perubahan dengan apa kekayaan yang dimiliki dan yang ada di sekitarnya dengan harapan perempuan mempunyai pendapatan ekonomi dan bisa mengambil keputusan untuk dirinya dan keluarganya secara berkelanjutan. Sehingga ibu-ibu yang bergabung dengan Du Anyam dapat tetap di rumah saja namun tetap produktif dan menghasilkan pendapatan dengan tetap mengurus anak dan rumah tangga. ,” ujar Hanna.
Dalam hal peran industri terkait pemberdayaan perempuan dan anak melalui program sosial perusahaan, Manajer Corporate Social Responsibility (CSR) Astra Indonesia, Wioko Yudhantara menuturkan Astra sadar betul bahwa perempuan dan anak merupakan aset bangsa yang sangat penting sehingga mereka harus menjadi bagian dari pembangunan yang tidak boleh ditinggalkan dan menjadi fokus utama program CSR ASTRA.
“Peran ASTRA dalam upaya pekerja anak sejalan dengan peraturan pemerintah yang telah meratifikasi International Labour Organization, UU No. 1 tahun 2000, dan UU 20 tahun 1999. Kami telah menerapkan dengan tujuh lini bisnis dan kurang lebih 238 anak perusahaan, melalui peraturan perusahaan kita memastikan setiap perusahaan di bawah grup ASTRA tidak ada pekerja anak termasuk supplier, outsourcing, dan magang. Permasalahan pekerja anak bukan hanya di industri, namun juga di masyarakat hal-hal yang dapat membuat anak bekerja di bawah umur di antaranya kondisi ekonomi dan pendidikan. Hal ini menjadi permasalahan bersama yang kita juga patut kolaborasikan melalui program-program pemberdayaan,” ujar Wioko.
Wioko menambahkan khusus untuk program sosial ASTRA mayoritas ujung tombak dari pemberdayaan ekonomi dan kewirausahaan adalah perempuan/ibu-ibu. Peran mereka pun menjadi sangat penting dalam bidangnya masing-masing, sehingga kami fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan yang dapat meningkatkan kualitas keluarga.
“Kami juga memiliki beberapa program dalam hal pemberdayaan ekonomi perempuan, salah satunya Desa Sejahtera ASTRA yang fokus pada pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan perekonomian di desa dengan memberikan fasilitas, pelatihan, hingga pemasaran. Saat ini, kami sudah memiliki 930 Desa Sejahtera ASTRA yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu kegiatan di Desa Sejahtera ASTRA dengan mengangkat produk unggulan di desa masing-masing yang kami bantu untuk memasarkan produk tersebut. Salah satu desa yang kami bina adalah desa yang masuk dalam Dua Anyam, jadi kami juga mendukung desa yang sudah berjalan kegiatan pemberdayaannya,” ujar Wioko.
Dalam upaya mewujudkan kualitas keluarga Indonesia yang lebih baik lagi, selain faktor pemberdayaan ekonomi perempuan, faktor kualitas pendidikan anak juga tak kalah penting. Forbes 30 Under 30 Asia sekaligus Founder Anak Petani Cerdas, Heni Sri Sundari mengatakan pendidikan pada anak adalah senjata yang paling ampuh dalam memutus rantai kemiskinan dan meraih mimpi-mimpi mereka.
“Pada 2011 saya balik ke Indonesia dan mendirikan gerakan Anak Petani Cerdas bertujuan untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Kami berfokus membantu anak petani, TKI, dan marginal agar mereka mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik dan kehidupan keluarga yang lebih mandiri. Kami membuat program desa wisata, program pemberdayaan masyarakat, modal usaha dan pendampingan masyarakat agar mereka dapat terjangkau oleh investor baik dari dalam ataupun luar negeri. Kami juga mempunyai program pemberian beasiswa agar anak-anak tidak putus sekolah dan tidak menjadi korban perkawinan anak, beberapa sudah menjadi sarjana yang kembali ke kampung dan membangun Indonesia mulai dari kampung,” ujar Heni.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Penganyam dan Fasilitator Lapang Du Anyam, Ima Wotan yang membagikan pengalaman, manfaat, dan perubahan pada ekonomi keluarga setelah bergabung dengan komunitas pengayam Du Anyam.
“Sejak 2016 saya bergabung dengan Du Ayam, banyak perubahan baik yang saya rasakan. Dampak positif dari saya dan ibu-ibu pengayam rasakan adalah menambah ekonomi keluarga dan kami bisa belajar teknologi dengan ikut pelatihan melalui zoom meeting. Selain itu, dengan adanya Du Anyam warisan ayaman yang hampir punah sekarang bisa bertahan dan menjadi sumber penghasilan bagi kami. Perubahan lain yang saya rasakan, saya menjadi lebih percaya diri dan berani berbicara di dengan orang lain,” ujar Ima Wotan.
Selain itu, hadir pula Kepala Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan, A Wahyuli yang membagikan praktik baik bagaimana mewujudkan kualitas keluarga yang lebih baik melalui pemberdayaan perempuan dan anak.
“Di desa kami Pekka sudah masuk sejak 2010, sehingga tidak sulit untuk membuat perempuan berkontribusi dalam pembangunan dan pemberdayaan. Kami juga memiliki kelompok-kelompok perempuan, melalui dana desa kami melalakukan pelatihan-pelatihan hingga pemasaran produk dari kelompok perempuan. Banyak perubahan dan dampak positif yang kami rasakan salah satunya partisipasi masyarakat khususnya perempuan menjadi tinggi sudah memenuhi 30 persen kuota kelompok perempuan, peningkatan perempuan pelaku ekonomi, dan peningkatan ekonomi perempuan kepala keluarga di desa kami,” ujar A Wahyuli.
BIRO HUKUM DAN HUMAS
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 12-08-2021
- Kunjungan : 2691
-
Bagikan: