
Kemen PPPA Dorong Pelibatan Laki-laki dalam Menurunkan Angka Kematian Ibu
Siaran Pers Nomor: B- 508/SETMEN/HM.02.04/12/2021
Jakarta (15/12) – Angka kematian Ibu di Indonesia tergolong tinggi yaitu 305 per 100 ribu kelahiran hidup (Data Kementerian Kesehatan, 2020). Angka ini masih jauh dari target tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang ingin dicapai, yaitu 70 per 100 ribu kelahiran hidup. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu adalah pelibatan dan kontribusi laki-laki dalam kesehatan ibu. Deputi Bidang Kesetaraan Gender, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N. Rosalin menyatakan pelibatan laki-laki penting untuk mendorong kesejahteraan dan kesehatan para ibu.
“Angka kematian Ibu di Indonesia tergolong tinggi yaitu 305 per 100 ribu kelahiran hidup. Oleh karenanya, diperlukan sinergi seluruh pihak terutama melalui pelibatan laki-laki yang berperan sangat penting dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI), khususnya melalui peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi. Laki-laki harus memahami kesehatan reproduksi, memiliki informasi yang akurat dan mudah diakses, serta membuat keputusan yang bebas dari diskriminasi.” ungkap Lenny dalam Webinar Pelibatan Laki-laki dalam Meningkatkan Kesehatan Ibu sebagai Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI).
Lenny menambahkan keterlibatan laki-laki dalam menurunkan angka kematian ibu, dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada mereka yang mencakup semua kelompok umur, baik anak laki-laki maupun laki-laki dewasa. “Jika perempuan dapat mengakses semua layanan kesehatan dan laki-laki ikut berperan dalam mendukung kesehatan ibu dan anak, maka angka kematian ibu dapat diturunkan, sekaligus menutup kesenjangan gender di Indonesia,’’ ujar Lenny.
Lenny menjelaskan jika dilihat dari hasil ketiga indeks yang mengukur keberhasilan pembangunan bangsa yaitu: Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Gender (IPG), dan Indeks Kesetaraan Gender (IDG) selama 11 tahun terakhir, terlihat ada peningkatan, namun masih terjadi kesenjangan cukup lebar antara indeks capaian laki-laki dan perempuan.
“Pelibatan laki-laki sangatlah penting dalam mendorong komponen-komponen pembentuk indeks ini, baik kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu yang berkaitan erat dengan masalah kesehatan, karena dengan ekonomi yang baik, pemenuhan gizi pada ibu dan anak juga akan lebih baik. Untuk itu, diperlukan intervensi tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga aspek lainnya, terutama ekonomi sebagai kunci dalam menurunkan angka kematian ibu,” jelas Lenny.
Lenny menegaskan ketersediaan data di masing-masing daerah yang menunjukan perbandingan antara angka kematian ibu sebelum melibatkan laki-laki, dengan angka setelah melibatkan laki-laki juga sangat penting. Hal ini untuk memastikan adanya penurunan angka kematian ibu. Selain itu, Lenny menilai menurunkan angka kematian bayi dan menurunkan stunting merupakan hal yang sama penting.
“Harus ada intervensi yang mudah terukur, seperti menciptakan desa dan kelurahan yang ramah anak. Kami sudah bersinergi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, melalui penandatanganan MoU demi menghadirkan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) di seluruh Indonesia. Adapun salah satu ukuran dalam mewujudkan DRPPA ini, adalah tidak adanya kasus kematian ibu saat hamil atau melahirkan, stunting, dan kematian bayi,” terang Lenny.
Kemen PPPA telah mengembangkan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), Sekolah Ramah Anak, Puskesmas Ramah Anak, Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA), serta Masjid ataupun Gereja Ramah Anak di provinsi dan kabupaten/kota. Melalui layanan-layanan tersebut, seluruh pihak dapat turut menyebarluaskan pendidikan kesehatan reproduksi kepada masyarakat luas.
“Kuncinya yaitu sinergi, baik antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, tenaga kesehatan, keluarga, hingga individu, mulai dari anak-anak, remaja, termasuk laki-laki harus dilibatkan dan diberi pemahaman agar berperilaku sehat menjaga kesehatan reproduksi, cara akses pelayanan kesehatan, dan peran penting orangtua dalam pengasuhan anak. Pentingnya memberikan bekal kepada anak dan remaja, karena seringkali pendidikan kesehatan reproduksi dianggap tabu. Forum Anak juga harus dilibatkan dalam memberikan pendidikan ke teman sebaya mereka terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan anak,” tambah Lenny.
Senada dengan Lenny, Ketua Umum KOWANI, Giwo Rubianto juga menuturkan pentingnya keterlibatan laki-laki dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak termasuk dengan memberikan edukasi terkait kesehatan reproduksi pada remaja putra dan putri. “Suami berperan penting dalam mendampingi istri saat memberikan ASI, memberikan makanan pendukung ASI (MPASI), agar bayi menjadi insan sumber daya yang tangguh kelak di kemudian hari. Adanya kebiasaan salah yang mengutamakan suami dalam mengakses makanan bergizi, harus bisa kita ubah dan diedukasi kepada masyarakat. Ayah harus memberikan perhatian terbaik kepada ibu hamil, peran suami dan ayah inilah yang perlu disosialisasikan dan dipromosikan sebagai salah satu ukuran keberhasilan kesehatan ibu dan anak dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan stunting,” jelas Giwo.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Harian Pita Putih Indonesia, Heru Kasidi menuturkan laki-laki memiliki banyak peran dalam percepatan penurunan angka kematian ibu, namun ia menyayangkan masih kentalnya pemahaman dan budaya di Indonesia bahwa kehamilan adalah tanggungjawab perempuan itu sendiri, sehingga hal ini menjadi salah satu permasalahan dalam isu gender pada kesehatan ibu.
“Proses kehamilan adalah tanggungjawab bersama antara suami dan istri, jadi bukan hanya tanggung jawab perempuan. Peran laki-laki sangat berpengaruh pada upaya percepatan penurunan angka kematian ibu, dimulai dari proses kehamilan dengan mengupayakan terpenuhinya dengan baik gizi istri yang hamil, mengusahakan ibu hamil mendapat akses ke pelayanan kesehatan, mengamati dan mendeteksi adanya anemia, memberikan info terkait perawatan kehamilan, mengetahui dan mempertimbangkan risiko pada kehamilan usia muda dan tua, serta mengawasi perkembangan kehamilan,’’ ujar Heru.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Kab. Jombang sekaligus Penggagas Program Ayah Peduli, dr. Muhammad Vidya Buana menuturkan kentalnya isu patriarki serta kurangnya keterlibatan laki-laki dalam pendampingan ibu hamil masih menjadi persoalan di tengah masyarakat saat ini. Untuk itu, Vidya mengusulkan agar pelibatan ayah dalam kesehatan ibu dan anak dapat dijadikan isu sentral secara nasional.
“Saya mendorong isu keterlibatan ayah atau kepedulian ayah dalam mencegah kematian ibu hamil dan melahirkan menjadi isu sentral, karena selama ini keterlibatan ayah hanya menjadi sisipan program saja. Upaya ini sekaligus untuk mencairkan isu patriarki di dalam masyarakat itu sendiri. Posisi laki-laki selalu paling atas dalam keluarga, sehingga saat ibu dihadapkan pada pengambilan keputusan harus menunggu ayah dahulu,” ujar Vidya.
Vidya menambahkan kampanye harus dilakukan secara masif. “Adapun tantangan yang harus dicarikan solusi segera adalah adanya jam layanan yang memungkinkan ayah bisa mendampingi istri saat kontrol kehamilan ke posyandu atau rumah sakit. Mengingat di posyandu, jam layanan ada di jam kerja, dimana sebagian besar ayah juga sedang bekerja sehingga banyak yang berhalangan menemani istri mereka periksa kehamilan,” tambah Vidya.
Sementara itu Project Manager Rifka Annisa, Nurmawati menyampaikan jika melihat proses pendampingan di wilayah Gunung Kidul dan Kulonprogo, faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu diantaranya yaitu beban ganda yang dialami kaum perempuan, sebagai pekerja domestik dan di sektor publik, sehingga mempengaruhi kesehatan fisik dan reproduksi perempuan. Pihaknya mendorong laki-laki untuk bertanggungjawab dalam keluarga, salah satunya dengan menginsiasi pelatihan dalam bentuk kelas ayah dan kelas ibu.
“Sebagai salah satu langkah intervensi, kami membuat kelas ayah dan kelas ibu. Di kelas ayah materi yang kami berikan di antaranya tentang kesetaraan gender dalam keluarga yang berhubungan dengan isu patriarki, membangun relasi sehat tanpa kekerasan, pengasuhan bagi ayah, kesehatan reproduksi, hingga kesehatan ibu dan anak. Sementara untuk kelas ibu, materinya hampir sama dengan kelas ayah dan fokus utama adalah mencegah perempuan menjadi korban kekerasan. Kami juga melatih para remaja untuk memahani kesehatan reproduksi masing-masing, pacaran yang sehat hingga pencegahan perkawinan usia anak,’’ jelas Nurmawati.
Lebih lanjut, Sub Koordinator Sub Substansi Akses Kesehatan Reproduksi dan KB Kementerian Kesehatan, dr. Yenni Yuliana menyampaikan pentingnya peran laki-laki sebagai suami dan ayah dalam mendampingi perempuan sebagai ibu di seluruh siklus kehidupan, mulai dari proses sebelum kehamilan, kehamilan, sesudah kehamilan, hingga dalam pengasuhan anak. Selain itu, diperlukan peran semua pihak, baik ayah maupun anggota keluarga lainnya untuk mendukung ibu saat merawat dan memberikan pegasuhan yang baik bagi anak.
BIRO HUKUM DAN HUMAS
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 15-12-2021
- Kunjungan : 3815
-
Bagikan: