
Kemen PPPA Perkuat Partisipasi Anak dan Kesehatan Jiwa melalui Webinar "Libur T'lah Tiba"
Siaran Pers Nomor: B-300/SETMEN/HM.02.04/7/2026
Jakarta (10/7) – Anak bukan hanya penerima manfaat pembangunan, tetapi merupakan subjek pembangunan. Anakmemiliki hak untuk didengar, dilibatkan, dan berpartisipasi secara bermakna dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kehidupannya. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menegaskan Mendengarkan suara anak merupakan bagian dari pemenuhan hak anak atas partisipasi sebagaimana diamanatkan dalam Konvensi Hak Anak.
"Suara anak sangat berarti dalam menciptakan Indonesia yang semakin ramah anak. Partisipasi yang bermakna oleh anakberarti setiap anak memiliki kesempatan memperoleh ruang yang aman, inklusif, bebas dari diskriminasi, serta mendapatkan umpan balik atas aspirasi yang telah disampaikan," ujar Menteri PPPA dalam kegiatan Webinar Series "Libur T'lah Tiba" bertema "Suara Anak untuk Indonesia: Mewujudkan Pembangunan yang Responsif, Inovatif, dan Sehat Mental", yang dilaksanakan secara luring, Kamis (9/7).
Menteri PPPA juga menekankan pembangunan generasi Indonesia tidak cukup hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus memastikan setiap anak tumbuh dengan kesehatan jiwa yang baik. Menurutnya, kesehatan mental menjadi fondasi penting agar anak mampu berkembang secara optimal, berpartisipasi aktif, dan mewujudkan potensi terbaiknya.
"Sehat jiwa bukan berarti tidak pernah merasa sedih, takut, atau kecewa. Sehat jiwa berarti mampu mengenali dan mengelola emosi, memiliki rasa percaya diri, mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, berani meminta pertolongan ketika menghadapi kesulitan, serta tetap memiliki harapan dan semangat untuk berkembang," tutur Menteri PPPA.
Kesehatan jiwa anak tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama. Menteri PPPA menambahkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
"Keluarga perlu menjadi ruang pertama yang penuh kasih sayang dan komunikasi. Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan dan perundungan. Masyarakat perlu memberikan dukungan dan tidak memberikan stigma kepada anak yang sedang menghadapi persoalan psikologis. Pemerintah pun terus memperkuat kebijakan dan layanan yang berpihak pada pemenuhan hak anak, termasuk pemenuhan hak atas kesehatan jiwa," jelas Menteri PPPA.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluargadan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Sri HastutiSulistyaningrum menjelaskan pelibatan anak secara bermakna menjadi salah satu prasyarat dalam mewujudkan pembangunan yang benar-benar responsif terhadap kebutuhan anak. Menurutnya, suara anak harus menjadi bagian dari proses perencanaan dan pengambilan kebijakan, bukan sekadar pelengkap dalam berbagai forum.
"Anak-anak punya peran yang luar biasa dalam pembangunan. Jadi (anak) jangan puas hanya menjadi sasaran program atau sekadar penerima manfaat saja, tetapi harus bisakritis, menyuarakan dan mempengaruhi kebijakan-kebijakandengan perspektif anak demi perbaikan di masa depan. Untuk memastikan sinergi lintas sektor berjalan dan mengawal suaraanak secara berkelanjutan, diperlukan komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingantermasuk kelompok anak,” jelas Woro Sri Hastuti.
Direktur Keluarga, Pengasuhan, Perempuan, dan Anak Kementerian PPN/Bappenas, Qurrota A'yun menjelaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai mekanisme untuk memastikan suara anak dapat menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan. Salah satunya melalui Forum Anak sebagai wadah partisipasi yang memungkinkan anak menyampaikan aspirasi, kebutuhan, dan pandangannya terhadap berbagai isu yang mereka hadapi.
"Pemerintah telah menyiapkan mekanisme agar suara anak dapat masuk ke dalam proses pembangunan, salah satunya melalui Forum Anak. Forum ini menjadi ruang bagi anak untuk menyampaikan aspirasi, kebutuhan, dan pandangan mereka terhadap berbagai isu yang dihadapi. Agar suara anak benar-benar dapat memengaruhi perencanaan pembangunan, anak-anak juga perlu memahami proses penyusunan perencanaan dilakukan, kapan waktu yang tepat, serta cara menyampaikan usulan secara efektif,” jelas Qurrota A'yun.
Kemampuan anak dalam berpartisipasi juga dipengaruhioleh kondisi kesehatan mental atau jiwanya. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Imran Pambudimenuturkan kesehatan jiwa remaja merupakan isu yang serius dan perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan hasil skrining kesehatan jiwa anak usia 7–17 tahun melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sebanyak 4,8 persen atau sekitar 363.326 anak terindikasi memiliki gejala depresi.
"Kesehatan jiwa remaja adalah isu serius dan nyata. Di era digital, tingginya paparan terhadap ruang digital jugamenghadirkan tantangan baru bagi kesehatan mental anak. Kitaperlu membangun lingkungan yang mendukung kesehatan jiwaanak, menghilangkan stigma terhadap persoalan kesehatanmental, serta mendorong anak untuk berani mencaripertolongan ketika menghadapi kesulitan," ujar Imran Pambudi.
Dalam Webinar Series "Libur T'lah Tiba", Psikolog Irfan Aulia membagikan sejumlah tips sederhana bagi remaja untuk menjaga kesehatan jiwa ketika menghadapi situasi yang sulit. Menurut Irfan, kemampuan mengelola emosi dan membangun pola pikir adalah kunci keluar dari pemikiran atau situasi yang buruk.
"Setiap kali menghadapi kondisi yang buruk, cobalahmemeluk diri sendiri. Katakan situasi ini hanya sementara dantidak akan berlangsung lama. Cara berpikir seperti ini dapatmembantu kita tetap optimis. Sebaliknya, ketika mengalamihal-hal yang baik, sebarkan perasaan positif tersebut dalam diriagar memberikan energi yang baik bagi tubuh dan pikiran. Saatsedang merasa tertekan atau bad mood, remaja juga dapatmelakukan teknik sederhana seperti memijat area wajah, dahi, pipi, dan bibir sebagai salah satu cara untuk membantumenenangkan diri," jelas Irfan Aulia.
Webinar Series "Libur T'lah Tiba" merupakan bagian dari upaya Kementerian Pemberdayaan Perempuan danPerlindungan Anak (Kemen PPPA) meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan hak anak, termasuk hak untuk berpartisipasi dan memperoleh dukungan kesehatan jiwa, sebagai fondasi mewujudkan generasi Indonesia yang tangguh menuju Indonesia Emas 2045.
BIRO HUMAS DAN UMUM
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 10-07-2026
- Kunjungan : 189
-
Bagikan: