
Perempuan Pemimpin Perubahan: Wujudkan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak
Siaran Pers Nomor: B- 535 /SETMEN/HM.02.04/12/2021
Jakarta (31/12) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai pemimpin perubahan untuk mewujudkan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), serta mengupayakan pembangunan Indonesia yang berkeadilan gender. Melalui fasilitasi pendidikan non formal Akademi Paradigta Indonesia yang diinisiasi oleh Yayasan PEKKA (Pendiri Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) dan masuk ke dalam agenda DRPPA, 563 peserta perempuan dari 20 Kabupaten dan 10 Provinsi mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi untuk menjadi pemimpin.
“Perempuan harus didukung untuk menjadi pemimpin, karena saat ini, dari total 74.961 desa hanya sekitar 5 persen yang dipimpin oleh perempuan. Padahal, desa merupakan ujung tombak dalam pembangunan nasional. Dengan adanya kepemimpinan perempuan, maka kebutuhan-kebutuhan spesifik khusus bagi kelompok rentan, perempuan maupun anak dapat terakomodir karena adanya suara perempuan yang mempengaruhi berbagai pengambilan keputusan penting,” ungkap Menteri Bintang dalam acara Wisuda Akademi Paradigta Indonesia (30/12)
Menteri Bintang menegaskan dasar utama pembentukan DRPPA yang dicanangkan Kemen PPPA adalah untuk mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 (SDGs), khususnya pada tujuan ke-5 yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan dan anak. Lebih lanjut upaya melokalkan SDGs Desa sangatlah penting karena akan berkontribusi secara signifikan dalam pencapaian SDGs nasional sebanyak 70 persen.
“Pada akhirnya keberhasilan dari pembangunan dan pengembangan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak akan terlihat dari: sejauh mana kebijakan di desa mengatur tentang implementasi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak, meningkatnya perempuan wirausaha di desa, meningkatnya keterwakilan perempuan di struktur desa maupun Badan Permusyawaratan Desa (BPD), meningkatnya partisipasi perempuan dan anak dalam proses pembangunan desa, meningkatnya peran ibu dan keluarga dalam pengasuhan dan pendidikan anak, dan tidak ada anak yang bekerja dan juga tidak ada anak yang menikah di bawah usia 18 tahun,” jelas Menteri Bintang
“Maka dari itu, marilah kita terus membuktikan bahwa meskipun jaman telah berubah, tantangan dan hambatan yang kita lalui juga beragam, tetapi satu hal yang tidak berubah: Perempuan Indonesia adalah pejuang yang tangguh,” pesan Menteri Bintang.
Pendiri Yayasan PEKKA, Nani Zulminarni menyampaikan bahwa dalam menghadapi dan merespon tantangan yang dihadapi saat ini dibutuhkan gerakan yang mengakar dan melibatkan setiap orang untuk membuat perubahan, baik itu laki-laki dan perempuan, serta anak-anak dan dapat dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga, komunitas dan masyarakat untuk saling berkolaborasi. Hal itu merupakan upaya untuk mendukung kemajuan bangsa yang inklusif dan dapat dinikmati oleh kelompok rentan yakni perempun, disabilitas dan masyarakat dengan strata ekonomi rendah.
Akademi Paradigta Indonesia mengembangkan inisiatif pendidikan kepemimpinan perempuan, training aksi berbasis komunitas yang dilakukan secara reguler di tingkat kecamatan dan kabupaten, serta diikuti oleh perempuan utusan dari desa dan kelurahan. Proses pendidikan berlangsung selama 3-6 bulan dengan sistem mentoring, yang mengkombinasikan pembelajaran dalam kelas dan praktik langsung di lapangan.
BIRO HUKUM DAN HUMAS
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510
e-mail : humas@kemenpppa.go.id
website : www.kemenpppa.go.id
- 01-01-2022
- Kunjungan : 2068
-
Bagikan: