
Topang Kesejahteraan Perempuan melalui Peningkatan Kesehatan
Siaran Pers Nomor: B-488/SETMEN/HM.02.04/12/2021
Jakarta (10/12) – Ketimpangan gender menyulitkan perempuan dalam berbagai hal, termasuk dalam bidang kesehatan. Perempuan mengalami akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang belum setara dengan laki-laki bahkan cenderung terhambat untuk memenuhi kebutuhan atas layanan kesehatan bagi dirinya. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menyebut situasi kesehatan perempuan di Indonesiaini sangat mengkhawatirkan.
“Perempuan seringkali tidak memiliki akses maupun kontrol atas makanan bergizi, air bersih, maupun layanan kesehatan, terlebih saat sumber daya yang tersedia dalam keluarga minim. Saat sakit, perempuan seringkali harus mendapatkan izin suami untuk mengakses layanan kesehatan,” tutur Menteri Bintang dalam Webinar Nasional bertajuk ‘Peningkatan Kesehatan untuk Kesejahteraan Perempuan’, secara virtual (9/12).
Tidak hanya itu, Menteri Bintang menambahkan banyak perempuan dalam keluarga berada dalam posisi sulit untuk mengontrol keuangan keluarga bahkan mengalami kekerasan ekonomi seperti larangan bagi perempuan untuk bekerja dan berpenghasilan atau membatasi pengeluaran. Hal ini berujung pada kesulitan perempuan dalam mengakses layanan kesehatan, tidak hanya bagi dirinya namun juga anaknya.
“Oleh karena itu, memajukan kesehatan perempuan sangat penting tidak hanya berdampak baik pada perempuan saja untuk meningkatan kesejahteraan tetapi juga seluruh pihak,” tegas Menteri Bintang.
Menteri Bintang mejelaskan untuk memastikan perempuan dan anak mendapat akses dan kontrol yang setara terhadap makanan bergizi, air bersih, layanan kesehatan, jaminan sosial kesehatan, maupun teknologi informasi dan komunikasi dibutuhkan peran kepemimpinan perempuan. Peran pemimpin perempuan dalam bidang kesehatan akan mendorong keputusan dan kebijakan yang berperspektif gender.
“Mati pastikan bahwa representasi perempuan dalam bidang kesehatan tidak hanya pada level teknis tetapi juga dalam level kepemimpinan sebagai pembuat kebijakan. Bagi seluruh pemangku kepentingan, gunakan perspektif gender dalam setiap rekomendasi, keputusan, program dan kebijakan tangan untuk mensejahterakan perempuan, demi kesejahteraan bangsa,” ujar Menteri Bintang.
Di sisi lain, Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Giwo Rubianto Wiyaga menyebut pandemi Covid-19 juga semakin memperburuk situasi kesehatan perempuan. Di masa pandemi Covid-19 perempuan sangat terdampak, terlihat dari kenaikan jumlah kematian ibu dan bayi yang terjadi.
“Tentunya fokus kita sudah bukan hanya untuk menangani Covid-19 agar tidak terjadi kenaikan infeksi, tetapi juga turut meningkatkan layanan kesehatan bagi seluruh ibu dan anak di mana pun mereka berada. Seorang ibu, seorang perempuan sebagai garda terdepan keluarga tentunya harus hidup sehat. Apabila ibu sehat dapat dipastikan kualitas tingkat kehidupan akan meningkat,” jelas Giwo Rubianto.
Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah penyelenggaraan G20 tahun 2022, bertema “Recover Together, Recover Stronger.” Salah satu Engagement Group dari G20 yaitu Women20 (W20) yang berfokus pada pembahasan terkait isu-isu perempuan. Webinar nasional ini merupakan kegiatan dalam rangka Roadmap W20 G20 Indonesia Presidency 2022 dan Peringatan Hari Ibu 2021 yang diselenggarakan atas kerjasama antara Kemeneterian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dan KOWANI yang merupakan Chair dari W20.
BIRO HUKUM DAN HUMAS KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp & Fax (021) 3448510,
e-mail : humas@kemenpppa.go.idwww.kemenpppa.go.id
- 10-12-2021
- Kunjungan : 3235
-
Bagikan: